Jumat, 09 Juli 2010

Khawatir Tak Dapat Murid

Masa-masa penerimaan siswa baru bukan hanya membuat khawatir para orangtua siswa karena anaknya tidak bisa diterima di sekolah yang sangat diharapkan. Masa-masa PSB juga menyisakan kekhawatiran bagi sekolah-sekolah tertentu yang kadang tidak diminati oleh anak didik lantaran dianggap tak bisa menyajikan pendidikan yang berkualitas.

Kekhawatiran sekolah semacam ini biasanya dialami oleh sekolah-sekolah swasta ang secara rangking kualitas tidak masuk dalam urutan sekolah unggulan. Dan jumlah sekolah semacam ini cukup banyak. Mereka khawatir, pada penerimaan siswa baru ini tidak akan mendapatkan murid yang sesuai dengan kapasitas sekolah.

Sebenarnya kekhawatiran para pengelola sekolah untuk tidak mendapatkan siswa sesuai dengan kapasitas yang telah direncanakan bukan hanya monopoli sekolah-sekolah swasta non unggulan. Masih banyak pula sekolah-sekolah negeri yang juga merasa khawatir setiap penerimaan siswa baru akan mengalami defisit siswa. Justru, di sekolah-sekolah negeri yang dianggap bukan unggulan, kekurangan siswa lebih berat lantaran semakin banyak sekolah-sekolah swasta bermunculan.

Maka tak urung banyak terjadi regrouping terhadap sekolah-sekolah negeri yang kekurangan siswa setiap tahunnya. Penggabungan (regrouping) sekolah-sekolah negeri nonunggulan banyak dilakukan oleh sekolah tingkat dasar dan SMP.

Sementara, sekolah-sekolah swasta harus berjibaku untuk mendapatkan siswa baru agar keberlanjutan lembaga pendidikan bisa berjalan. Sekolah-sekolah swasta yang dinilai nonunggulan seringkali juga khawatir setiap kali datang tahun ajaran baru/ penerimaan siswa baru. Mereka pun bersaing keras dengan sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta unggulan agar memperoleh pasokan siswa yang cukup.

Maka sejumlah pola dan konsep menggaet siswa dilakukan pada musim penerimaan siswa baru ini. Misalnya seperti yang dilakukan sekolah-sekolah swasta di Kabupaten Wonogiri yang sampai harus jemput bola mendatangi sejumlah keramaian untuk mendapatkan ketertarikan masyarakat mau mendaftarkan ke sekolahnya. Panitia penerimaan siswa baru sampai harus mendatangi tempat-tempat ramai seperti pusat pembelanjaan, terminal angkutan dan lainnya. Tentu ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah agar bisa memberikan supporting kepada sekolah-sekolah yang dianggap nonunggulan agar sekolah-sekolah tersebut tetap berkualitas dari sisi pembelajaran.


Sumber: Harian Joglosemar Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar