Selasa, 22 Juni 2010

Ketika Bahasa Krisis Makna

Mulutmu Harimaumu, kata pepatah. Seseorang akan dihargai karena lisannya. Jika bicaranya benar, maka akan berwibawa dan mampu menaklukkan teman dan lawan. Tetapi kalau omongannya tidak bisa dipegang dan dipercaya, maka dia akan menerkam dirinya. Maka hati-hatilah kalau berbicara. Terlebih jika seseorang menduduki jabatan publik, omongannya sangat dihormati, disegani dan dinanti sebagai sumber pencerahan dan pedoman masyarakat sehingga omongan penguasa disebut sabda.

Posisi yang tertinggi istilah sabda biasanya dilekatkan pada ucapan para Nabi, lalu untuk Tuhan digunakan istilah firman. Tetapi dalam tradisi Nusantara, sabda juga sering dilekatkan pada penguasa. Kalau dahulu Raja, kalau sekarang Presiden dan pejabat tinggi. Ini hanya untuk menunjukkan betapa masyarakat sangat menghargai petuah penguasa, dan juga sebuah peringatan agar pejabat tinggi kalau berbicara atau membuat statemen mesti benar dan hati-hati sebab implikasi sosialnya sangat besar.

Krisis Makna

Dengan membludaknya arus informasi yang disebarkan melalui media massa, telinga dan otak masyarakat dibanjiri oleh berbagai statemen politisi, pejabat tinggi negara, selebritas dan pengamat sosial yang semakin riuh rendah dan saling berbenturan. Belum lagi penyebaran informasi melalui Facebook, Twitter dan email, yang sesungguhnya tidak semuanya cocok disebut informasi melainkan gosip.

Dari berbagai obrolan ringan dengan warga masyarakat, mereka sering mengeluh tidak bisa lagi membedakan mana pernyataan publik yang benar dan yang salah, yang mesti dipegang dan dibuang. Terlebih ketika melihat sesama aparat negara pernyataannya saling berseberangan dan menyerang. Di mata masyarakat, lembaga DPR, polisi, kejaksaan, KPK, menteri dan presiden serta lembaga lain adalah aparatur negara karena digaji oleh negara. Suasana semakin membingungkan ketika oleh media televisi sengaja dibuat dramatisasi dan penajaman kalau ada perbedaan pendapat dan sikap.

Kalau saja pendidikan masyarakat sudah tinggi dan jajaran pemerintah memiliki wibawa di mata masyarakat, hiruk-pikuk dan benturan informasi itu tidak akan menimbulkan masalah karena rakyat bersikap kritis-selektif dan penjelasan pemerintah dapat diyakini kebenarannya. Tetapi saat ini terjadi krisis bahasa dan makna. Berbagai peristiwa pembunuhan, korupsi dan proses hukum terkesan tidak jelas, tidak tuntas dan tidak tegas penyelesaiannya, sehingga sangat wajar kalau masyarakat juga menjadi ragu terhadap kebenaran sabda penguasa.

Keraguan ini kian menjadi-jadi ketika penjelasan seputar peredaran video porno, misalnya, dinilai mengambang, berputar-putar, sementara masyarakat memiliki persepsi sendiri. Situasi ini menambah benang kusut lalu-lintas informasi yang membuat bahasa krisis makna. Wacana politik yang datang dari panggung Senayan juga sering menambah lalu-lalang statemen, opini dan gagasan yang ujungnya seringkali tidak jelas. Yang seru tentu saja permainan logika kalangan advokat yang senang adu tafsiran tentang pasal-pasal hukum yang kurang difahami masyarakat yang konon kabarnya besar bayarannya.

Sepanjang sejarahnya, baru setengah abad terakhir ini masyarakat dunia memasuki kehidupan baru dalam suatu dunia jejaring dan dunia visual yang mengaburkan batas antara yang riil dan yang maya. Jika ada video porno yang mirip wajah artis yang sudah amat beken, apakah itu dunia nyata ataukah maya? Apakah itu rekayasa ataukah potret sebenarnya? Kalau memang maya, mengapa mesti diributkan dan masyarakat senang menontonnya?

Demikianlah, perubahan masyarakat yang demikian drastis selalu menimbulkan berbagai masalah dan tantangan baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Untuk mencari jawaban dan solusinya pun tidak mudah. Jawabannya selalu tertinggal di belakang, jauh di belakang. Jarak antara problem dan solusi cenderung berbanding antara deret hitung dan deret ukur. Dalam situasi demikian, maka sangat penting agar orangtua, guru dan pejabat tinggi menjaga lisan, hati-hati membuat pernyataan, karena sabda mereka diharapkan berfungsi bagaikan atap yang memberi pengayoman dan cahaya kebenaran. Bukan malah mengacaukan dan membingungkan. Kalau lisannya tidak bisa dipercaya, di mana lagi letak martabat manusia?


Oleh: Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Sumber: Metro TV News Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar