Senin, 03 Mei 2010

Hilangnya Jati Diri Pendidikan

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei, merupakan sebuah simbol penghargaan bangsa ini terhadap pendidikan. Cuma sayangnya, sampai saat ini pendidikan belum berhasil membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya. Buktinya, praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), kekerasan, dan konflik SARA belum hengkang dari pergumulan bangsa ini. Bahkan konon, praktik korupsi itu telah merasuk dalam institusi yang menamakan dirinya sebagai pendidik. Menjadi wajar akhirnya ketika sebagian pihak menilai pendidikan seakan telah kehilangan jati dirinya. Tanpa menafikan nada sumbang itu, sudah waktunya memang bagi dunia pendidikan untuk melakukan klarifikasi sekaligus rekonstruksi.

Caranya dengan mulai mengupayakan terbentuknya falsafah pendidikan yang ideal serta strategi (metodologi) sosiologis yang efektif dalam mencapai visi memanusiakan manusia Indonesia. Yaitu, membentuk sebuah masyarakat beradab, yang cerdas dan dewasa dalam segala aspeknya. Dunia pendidikan tidak usah menutup mata, bahkan merasa rendah diri (inferior) dengan permasalahan yang menyangkut “sakitnya” manusia Indonesia akhir-akhir ini, dari tingkat elite hingga rakyat.

Sepatutnya, dunia pendidikan semakin termotivasi untuk memperbaiki kondisi ini melalui sarana pendidikan, yang di dalamnya didesain untuk melaksanakan misi penyadaran secara masif. Tidak berlebihan akhirnya untuk mengatakan bahwa sektor pendidikan merupakan simpul sekaligus agen perubahan (agent of change) bagi dekadensi moral, serta kekisruhan ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini.

Memosisikan pendidikan sebagai simpul sekaligus agen perubahan bukanlah pemikiran yang tanpa alasan. Sudah jauh-jauh hari, sejarah manusia menyumbangkan pesannya bahwa peradaban dan kebudayaan setiap masyarakat tidak pernah luput dari gerakan pendidikan ini. Misalnya, kiprah pendidikan Socrates dengan metode dialognya yang membawakan pesan sederhana, bahwa setiap manusia harus mengenali siapa dirinya sesungguhnya (gnothi seathon).

Selain itu, dalam sejarah hidup Nabi Muhammad SAW pun boleh jadi menyimpan “api sejarah” kata Soekarno yang tidaklah kecil. Semangat profetik yang hadir dalam diri Muhammad sesungguhnya menyimpan visi dan misi yang sangat hebat dalam upaya memperbaiki akhlak manusia dari jiwa Jahiliyah (kebodohan) ke dalam era baru pencerahan tauhid individual dan tata sosial kemasyarakatan. Secara sederhana, baik Socrates maupun Muhammad SAW sesungguhnya adalah tokoh historis yang paham akan jiwa zamannya (zeitgeist).

Intens dan Konsisten

Mereka mendirikan sistem pendidikan (sekolah) yang diakui secara kolektif mampu membangkitkan masyarakat dari, jeratan krisis multidimensi menuju masyarakat baru yang lebih beradab. Masyarakat yang beradab seperti itu tidak mungkin akan tercipta tanpa adanya kesadaran penuh (full-consciousness) dari para pelaku pendidikan untuk senantiasa intens dan konsisten dengan upaya pendidikan tiada henti di setiap pergantian zamannya. Historia magistra vitae, demikian orang bijak bilang.

Artinya, sejarah adalah guru bagi kehidupan. Ungkapan ini tentu bukan hanya pemeo semata. Melainkan merupakan pesan bahwa masa lalu (sejarah) adalah guru pengalaman yang sangat berharga. Gerakan pendidikan yang dilakukan, baik oleh Socrates, Muhammad maupun yang lainnya telah memercikkan sebuah pesan bahwa gerakan pendidikan (penyadaran) merupakan benteng sekaligus garda terdepan (avant-garde) dalam mengarungi zaman yang liar dan keras ini.

Seiring masa transisi yang sedang kita songsong kini, dunia pendidikan seharusnya melakukan tanggapan yang serius terhadap realitas permasalahan yang dihadapi bangsa. Melakukan sebuah upaya terencana untuk mendidik generasi bangsa dengan nilai-nilai kejujuran, kemanusiaan (humanisme), kesetaraan (equality) dan antikekerasan yang akan menjurus pada upaya memasukkan kepentingan bersama secara kolektif.

Karena itu, pendidikan bukanlah ajang untuk mengasingkan manusia dari kecenderungan untuk berbuat baik (hanif), melainkan sebuah ajang untuk terus membangun karakter bangsa (nation character building), yang dewasa dalam segi intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ), hingga terbetuklah masyarakat madani. Sebagaimana adagium yang menyatakan bahwa guru (pendidik) adalah pahlawan tanpa tanda jasa, maka ungkapan ini telah mengisyaratkan bahwa identitas pendidik adalah sosok yang tulus (ikhlas).

Dunia pendidikan sepantasnya mulai mengejawantahkan semangat memperbaiki kondisi dari jeratan krisis ini dari ruangan-ruangan sempit sekolah di pelbagai pelosok. Sebuah gerakan penyadaran (pendidikan) masyarakat yang dilakukan secara masif, kemungkinan akan mampu menelikung krisis dengan nilai-nilai progresif guna menyokong demokratisasi untuk mengejawantahkan praktik-praktik keadilan dan keutuhan (integrasi) nasional.

Hardiknas dan reformasi kesadaran momentum 2 Mei yang selalu kita rayakan setiap tahun sebagai hari pendidikan nasional, akhirnya tidak pantas dimaknai sebagai ritual an sich, melainkan merupakan sebuah pengingat untuk terus memperbaiki dunia pendidikan agar dirasakan layaknya oase di padang pasir. Hal ini terutama akan tertuju pada institusi sekolah yang memproklamasirkan diri sebagai kawah candra dimuka.

Sekolah sebagai institusi pendidikan, hingga kini masih bertebaran di antara hiruk-pikuk masyarakat. Tentu saja ada dan tidak adanya sekolah harus memiliki pembeda yang cukup signifikan terhadap efek yang ditimbulkannya. Sekolah sepantasnya menjadi otentik dan tidak lagi ditempatkan sebagai mitos dalam arus kehidupan yang sarat pilihan untuk maju atau terpuruk ini.

Sekolah adalah institusi di masyarakat yang bertugas untuk mendidik para siswanya. Tidak saja dalam ranah pengetahuan (kognitif), tetapi juga dalam upaya menemukan identitas dirinya sebagai manusia yang cenderung pada kebajikan (hanif). Karenanya, kekerdilan dalam berpikir dan berperilaku bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan. Dengan demikian, praktik KKN lambat laun harus hengkang dari pikiran, konflik SARA tidak lagi familier dalam benak generasi terdidik kita nanti, dan sifat kekanak-kanakan para politisi harus digantikan oleh generasi baru terdidik.

Mereka memahami betul bahwa kekuasaan adalah amanah sekaligus alat untuk memajukan masyarakatnya secara kolektif. Karena itu pendidikan sesungguhnya adalah suatu upaya yang dilakukan dalam jangka yang tidak mengenal waktu atau long-life education, menurut orang Amerika. Tentu saja, hal itu dilakukan secara terencana dan bertahap (gradual) tanpa melupakan misi sucinya sebagai gerakan reformasi kesadaran secara massif dalam tubuh bangsa.

Melalui sekolah, gerakan demokratisasi, dan reformasi berpikir serta berperilaku sebagai nation-character building akan efektif menyibak awan kelabu dalam krisis multidimensi selama ini. Mari jadikan sekolah sebagai institusi yang benar-benar berkiprah sebagai gerakan pendidikan. Bukan sebaliknya seperti ungkapan nakal Margaret Mead, “Nenek menginginkanku mendapatkan pendidikan, karenanya ia melarangku sekolah.”


Oleh: Muh Abu Nasrun, Kepala SD Muhammadiyah 1 Surakarta
Sumber: Harian Joglosemar Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar