Senin, 10 Mei 2010

Mari Mengajar Dengan Cara Menyenangkan

JAKARTA. Pendidikan memang semestinya tidak melulu dilakukan di kelas. Bahkan, dalam proses belajar, inovasi pembelajaran itu harus dilakukan atau mungkin diprioritaskan agar pelajaran yang disampaikan dapat diserap oleh siswa secara maksimal.

Pendidikan dapat dilakukan di mana saja dengan metode yang menyenangkan. Tidak selalu di dalam kelas dengan guru yang mendominasi proses belajar. Fasilitator Gebyar Apresiasi Karakter siswa (Gebyar Aksi), Yusak Manitis, mengatakan pendidikan dengan model di luar kelas dengan cara menyenangkan sebenarnya sudah diterapkan sejak dulu.

Salah satunya pendidikan yang ada di Pramuka. Oleh karenanya, dalam kegiatan Gebyar AKSI, Kementerian Pendidikan Nasional menggandeng Pramuka Indonesia untuk memberikan pendidikan karakter yang dilakukan dengan berbagai motode, seperti permainan, aksi kebangsaan, aksi kepedulian, dan aksi kreativitas.

Ada juga program Salam Nusantara yang mencakup perkenalan diri dalam bahasa daerah dan nasional, tampilan budaya daerah, serta presentasi profil daerah. Selain itu, program motivasi juga diberikan kepada siswa, yaitu pembinaan keimanan dan akhlak, pengembangan keseimbangan potensi diri, pembinaan kepercayaan diri, serta aktualisasi kesamaan derajat dan status sosial.

''Pendidikan karakter yang dituangkan melalui permaian di Gebyar AKSi diadopsi dari Pramuka, di dalamnya tidak ada semacam ceramah seperti di dalam kelas, karena kita pakai sistem sharing. Kita buat permainan, nanti mereka sendirilah yang temukan prinsip pelajaran dan makna pendidikan karakternya,'' jelas Yusak saat ditemui Republika, di Taman Wiladatika, Jakarta Timur, Ahad (9/10).

Oleh karenanya, para guru dan fasilitator hanya bertugas untuk mengarahkan siswa. Melalui permainan, maka pendidikan yang berlangsung dua arah. Setelah diberi pengarahan tentang suatu permainan, selanjutnya para siswalah yang terjun langsung dalam proses pendidikan melalui permainan, seperti tanggung jawab menyelesaikan permainan, bekerja sama, kesabaran, ketangguhan mental, kepercayaan diri, dan lainnya.

''Di permainan itu, siswa terlibat semua, dan makna pendidikannya akan dirasakan setelah permainan karena setiap permainan ada evaluasi. Apa manfaat dan kekurangan dari siswa dia yang rasakan. Pembina selanjutnya memberi dorongan dan saran,'' jelas Yusak.


Sumber: Republika Newsroom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar