Selasa, 10 Agustus 2010

Multimelek Aksara di Abad 21

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) terus menjadi perbincangan di negeri ini. Biasanya terkait isu biaya sekolah yang melambung tinggi dan sedikit siswa yang dapat mengakses sekolah semacam ini. Siswa pandai dari keluarga tak mampu sungguh tidak beruntung. Namun RSBI/SBI yang dipersoalkan ini jarang dikaitkan dengan isu kemampuan multimelek aksara yang dibutuhkan abad 21.

Kegiatan “membaca” di abad ini bukan hanya sebatas membaca buku-buku cetakan. Buku versi elektronik (e-book) sangat tersedia di jejaring internet. Bangsa-bangsa maju telah dan terus menggunakan material elektronik dan digital termasuk kemudahan akses dan fleksibilitasnya. Materi-materi elektronik dapat memasukkan unsur-unsur multimedia, seperti suara dan video klip yang tidak dapat dihadirkan dalam buku-buku cetakan.

Semua ini berkontribusi bagi pertumbuhan e-book dan e-journal di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Di kota-kota super sibuk seperti Hongkong, ruang yang nyaman bagi perpustakaan digital merupakan alasan paling menarik mengapa terdorong untuk membaca versi elektronik dari publikasi.

Pada saat yang sama, perpustakaan-perpustakaan yang terdorong menggunakan sumber-sumber digital masih merupakan isu yang asing. Sehingga akseptabilitas penggunaan sumber-sumber digital ini masih perlu memperoleh perhatian.

Pada era teknologi informasi, pemahaman tradisional tentang melek aksara (literacy) sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis jauh dari cukup. Literacy perlu menghubungkan antara kemampuan membaca dan menulis dengan teknologi baru, yaitu kemampuan memproses informasi elektronik. Konsep literacy mesti diperbaiki untuk merespons kebutuhan dan tuntutan masyarakat informasi.

Gee (1996) misalnya, bicara tentang keragaman literacy yang berubah sepanjang ruang dan waktu. Bodomo (2000) juga mengakui masalah kurang memadainya paham literacy tradisional. Ia mengusulkan definisi literacy sebagai kemampuan untuk mengkoding dan menafsirkan sistem bahasa dan sistem simbol lainnya dalam proses komunikasi dan informasi. Bodomo dan Lee (2002) lebih lanjut mengusulkan pendekatan “peka teknologi” pada literacy dalam studi mereka tentang bentuk-bentuk perubahan bahasa di era informasi.

Peka teknologi di sini ialah melek berbagai media digital sebagai akibat dari instrumen-instrumen komunikasi mutakhir. Melek digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format yang berasal dari berbagai sumber yang disajikan melalui komputer (Gilster, 1997: 33). Wajar jika kemudian muncul gagasan mengenai multimelek aksara (multiliteracies).

Pemahaman ini lahir dalam konteks dinamika teknologi komunikasi dan informasi, termasuk melek komputer, melek visual, melek informasi, dan melek teknologi informasi. Semua konsep ini telah demikian dikenal dalam masyarakat kontemporer, khususnya di dunia pendidikan, karena meningkatnya penggunaan teknologi komunikasi dan informasi di dalamnya.

Informasi dan keterampilan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan dalam membicarakan literacy di masyarakat berbasis pengetahuan. Melek digital berkaitan erat dengan kemampuan memahami informasi, menilai serta mengintegrasikan informasi dalam berbagai format yang disajikan komputer. Munculnya teknologi e-book dan praktik-praktik membacanya merupakan manifestasi dari melek digital. Meningkatnya ketersediaan teknologi ini telah menarik perhatian berbagai perpustakaan universitas karena dua alasan: materi-materi elektronik memuaskan dan menyenangkan dalam arti mahasiswa dapat mengaksesnya dari jarak jauh; dan e-book dapat menghemat ruang.

Belum Terbiasa

Pengalaman membaca buku online jelas berbeda dengan membaca buku cetakan. Keterampilan-keterampilan yang terlibat dalam kegiatan ini pasti lebih kompleks.

Di sinilah beberapa persoalan muncul di dunia perguruan tinggi, termasuk sekolah-sekolah yang menamakan diri bertaraf internasional. Jika membaca buku elektronik berbahasa asing, utamanya Inggris, menghendaki pengalaman membaca yang baru, bahkan melek aksara baru, apakah dosen, guru dan pelajar yang terbiasa dengan barang cetakan siap untuk menerima teknologi baru itu? Dengan kata lain, apakah mereka cukup melek digital untuk menguasai kemampuan membaca e-book? Bagaimana kebiasaan mereka mempergunakan materi-materi semacam itu? Apa sebenarnya yang mereka lebih sukai dalam menggunakan materi-materi tersebut?

Kenyataannya bangsa ini masih tergolong rendah dalam penggunaan sumber-sumber digital. Penulis sebagai seorang dosen pun masih mendapatkan beberapa kolega yang belum terbiasa menggunakan multimedia dalam proses belajar mengajar. Belum lagi kemampuan bahasa dalam mengakses sumber-sumber digital.

Dua alasan rendahnya penggunaan sumber-sumber digital adalah: kurangnya promosi yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan dan pejabat berwenang lainnya; dan rendahnya kesadaran mempergunakan sumber-sumber digital. Mereka belum menumbuhkan kebiasaan menggunakan buku yang dipublikasikan melalui media-media yang tidak konvensional. Dengan kata lain, mereka belum siap secara digital untuk membaca e-book. Menjadi melek digital bersifat multidimensional dan interaktif.

Ketika dunia pendidikan riuh dengan RSBI/SBI, salah satu masalahnya bersumber dari sini. Sedikit guru yang menguasai bahasa Inggris, sebagai alat untuk memahami materi-materi berbahasa Inggris, apalagi menyampaikannya kepada siswa.

Kenyataan berikutnya adalah rendahnya akses terhadap perpustakaan digital. Perpustakaan digital di negeri ini masih terbatas di sedikit perguruan tinggi negeri dan atau swasta. Soal lain ialah kesenjangan komunikasi antara para pengguna dengan pengelola perpustakaan. Kesenjangan terjadi ketika perpustakaan telah menyediakan sumber-sumber digital, sementara para penggunanya lebih memilih sumber-sumber cetakan.
Untuk mengatasi problem di muka, beberapa tindakan solusi mesti dilakukan. Pertama, pentingnya mempromosikan keuntungan dari materi-materi digital. Kedua, membangkitkan kesadaran perlunya memperkaya koleksi materi-materi elektronik.

Ketiga, mengambil keuntungan dari e-book. Keempat, memperluas teknologi e-book. Kelima, penggunaan buku elektronik di sektor-sektor pendidikan lainnya.

Sumber-sumber elektronik rupanya mulai menggantikan materi-materi cetakan, khususnya jurnal. Namun sebagian besar pelajar masih lebih memilih buku cetakan daripada digital. Perubahan paradigma dari perpustakaan cetakan ke perpustakaan digital, akan sangat tergantung pada tindakan-tindakan yang diambil untuk mendorong sikap positif para pengguna sumber-sumber digital. (***)


Oleh: Zakiyuddin Baidhawy, Penulis adalah dosen STAIN Salatiga, tinggal di Sukoharjo
Sumber: Harian Joglosemar Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar