Tampilkan postingan dengan label Menjadi Guru Ideal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menjadi Guru Ideal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

Guru Berwibawa vs Guru Idola

Keberadaan dan kehadiran Guru masih begitu sentral dalam proses pembelajaran di sekolah walalupun hakikatnya proses pembelajaran sekarang ini tidak lagi terfokus pada hanya seorang guru dimana guru hanya berperan sebagai seorang fasilitator saja dan para peserta didik dituntut untuk lebih kreatif dan lebih cerdas dalam menguasai kompetensi-kompetensi yang dipelajarinya.

Sosok sentral inilah menjadikan sosok seorang guru dituntut benar-benar menguasai materi-materi yang diampunya dan peserta didikpun sering kali bisa memberikan penilaian atas kinerja dan kemampuan guru yang bersangkutan, jangan salah banyak peserta didik walalupun selama mereka berada dalam kelas duduk rapi, tidak ribut, selalu mengerjakan tugas namun kenyataannya mereka selalu membicarakan guru yang bersangkutan karena ketidakmampuannya dalam menyampaikan materinya, interaksi dengan peserta didik kurang, komunikasi yang berjalan searah, monoton dan tidak variatif, membosankan dan banyak lagi hal-hal yang harus diperbaiki guru yang terkadang tidak disadarinya.

Senin, 09 Mei 2011

Memanfaatkan Google Books untuk Belajar

Beberapa guru, terutama yang sedang sekolah lagi, sering menanyakan pada saya mengenai bahan-bahan untuk penelitian. Menurut saya untuk bahan terkait penelitian, saya lebih suka membaca jurnal dan buku, ketimbang membaca artikel di website.

Artikel di website saya gunakan untuk menemukan “kata-kata kunci” yang kemudian saya cari lagi di buku. Untuk keperluan ini saya senang menggunakan Google Books.

Saya tinggal mengetikkan kata kunci ke dalam kotak ‘search‘ dan saya bisa menemukan buku terkait kata kunci.

Misalnya saat saya mengetikkan frase “reflexive teaching“ saya bisa menemukan 33.400 buku terkait reflexive teaching. Banyak banget kan?

Minggu, 08 Mei 2011

Idealisme Guru Dinilai Menurun

Idealisme guru dinilai mulai menurun. Ini karena sistem kapitalisme pendidikan yang membuat guru menjadi sibuk sendiri mengejar kesejahteraan hidup, dan melupakan tugas pokok kepada siswa yaitu mengasuh, mendidik dan memelihara.

Demikian ditegaskan praktisi pendidikan Al Firdaus, Siti Rohimah saat berbicara dalam seminar pendidikan Kapitalisasi Pendidikan Mengikis Idealisme Guru, yang digelar Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) cabang Solo di SMKN 7, Minggu (8/5).

Dikatakan Siti, tugas dari seorang guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi kepada anak. Lebih dari itu, guru harus melihat satu persatu apakah anak sudah memahami materi yang diberikan atau belum. Pemahaman itu tak hanya sekadar klasikal, namun harus dilihat secara individual sejauh mana pemahaman anak.

Senin, 02 Mei 2011

Buku Cetak Diganti Komputer Tablet

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mengembangkan komputer tablet yang berisi materi pelajaran. Komputer tablet ini nantinya akan menggantikan buku cetak pelajaran yang selama ini digunakan siswa sekolah.
”Komputer tablet ini akan digunakan sebagai bagian utama dalam sistem pelajaran,” ujar Mendiknas M Nuh di kantor Kemendiknas, Jakarta, Senin (2/5).

Nuh mengatakan, buku yang berbentuk cetak hanya akan menjadi penunjang komputer tablet. Sehingga para siswa tidak perlu lagi membawa buku yang banyak dan berat ke sekolah. ”Itu yang membuat mereka kecapekan,” ungkapnya.

Kemendiknas dalam hal ini bekerja sama dengan Balai Pustaka dalam menyediakan buku-buku materi pelajaran, Microsoft Indonesia dan Intel Indonesia.

Kamis, 09 Desember 2010

Mengapa Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas?

Membaca Headline di Kompas.com, Rabu 8 Desember 2010 tentang pembelajaran di sini (klik), membuat saya ingin mengomentari apa yang disampaikan oleh ketua umum PGRI, Prof. Dr. Sulistiyo. Beliau mengakui, profesionalisme atau kompetensi guru umumnya masih rendah karena guru kurang mendapat pelatihan. Senada dengan ketua PGRI, saya pun mengamini bahwa proses belajar-mengajar atau pembelajaran di sekolah kerap membosankan, dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas. Di situlah sebenarnya pelatihan guru sangat diperlukan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Dengan adanya pelatihan, guru dapat menerapkan metode pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Saya pun bersetuju dengan komentar bapak Fasli Jalal. “Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Sabtu (4/12/2010).

Membaca dua komentar para pejabat di atas, saya berkeyakinan bahwa adanya pelatihan-pelatihan akan sangat membantu guru dalam mengembangkan kreativitas peserta didiknya. Sayangnya, lembaga atau organisasi guru seperti PGRI yang semestinya mengayomi guru, kurang begitu fokus dalam mengadakan pelatihan-pelatihan. Justru lembaga non PGRI seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang lebih banyak berperan dalam pelatihan-pelatihan guru. Sehingga wajar saja bila pak Sulistiyo mengakui, profesionalisme atau kompetensi guru umumnya masih rendah karena guru kurang mendapat pelatihan. Padahal pelatihan itu sangat penting agar guru mampu menemukan potensi unik siswa, dan mengembangkan kreativitasnya.

Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas

JAKARTA, KOMPAS.com. Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.
"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Sabtu (4/12/2010).

Ketua Umum PGRI Sulistiyo mengakui, profesionalisme atau kompetensi guru umumnya masih rendah karena guru kurang mendapat pelatihan. (LUK)


Sumber: Kompas.Com

Guru Harus Kian Humanis dan Berbhinneka

JAKARTA, KOMPAS.com. Kekerasan yang banyak terjadi di dunia pendidikan semakin hari semakin parah. Para guru diharapkan dapat mendidik dengan humanis dan berbhinneka.

Wahyu Hartomo, Deputi V Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayagunaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan, pendidik humanis harus mengajar dengan tiga macam pendekatan, yaitu pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif.

"Pendekatan dialogis dilakukan dengan membangun dialog dengan para murid, sifatnya komunikasi dua arah. Pendekatan reflektif dengan membangun komunikasi dengan dirinya sendiri, introspeksi, dan evaluasi diri contohnya, sedangkan pendekatan ekspresif dilakukan dengan proses belajar-mengajar yang sekreatif mungkin," jelas Wahyu di sela-sela acara pelatihan guru se-Jabodetabek di Jakarta, Senin (29/11/2010).