Minggu, 25 April 2010

Sikapi Kelulusan UN dengan Bijak

Pagi ini, suasana hati ribuan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat di Tanah Air berkecamuk. Itu bisa dimengerti karena hari ini, Senin (26/4) merupakan hari pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN). Bagi mereka yang lulus pasti akan disambut dengan suka cita, sementara sebaliknya bagi mereka yang lulus pasti akan bersedih.

Kalau mengaca pada data yang dikeluarkan pemerintah, maka pada tahun ini jumlah siswa yang tidak lulus UN lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Secara nasional, tingkat kelulusan UN 2010 menurun empat persen dari tahun lalu. Angka kelulusan yang semula 93,74 persen kini menjadi 89,88 persen. Berdasarkan data Badan Standar Nasional Pendidikan, terdapat 154.079 siswa yang mengulang ujian dari total peserta 1.522.162 siswa.

Patut diberikan pemahaman kepada para siswa baik yang lulus maupun yang tidak lulus. Bagi siswa yang tidak lulus UN bukan berarti sudah habis peluangnya untuk maju. Selain mereka masih mempunyai peluang untuk mengulang UN pada Mei mendatang, tidak lulus UN juga berarti akan menentukan segalanya bagi masa depannya. Masih banyak peluang lain yang ditempuh di luar mengikuti standar pendidikan yang ada.

Begitu pula bagi yang lulus UN jangan sampai dirayakan secara berlebihan. Masing-masing sekolah harus bisa memberikan pemahaman dan mencegah terjadinya perayaan yang berlebih-lebihan di kalangan siswa. Mereka yang lulus UN bukan berarti tugas sudah selesai. Masih banyak faktor kesuksesan lainnya yang harus diraih oleh siswa. UN baru sebagian faktor yang telah diraih.

Semua pihak mulai dari orangtua, guru, sekolah hingga para siswa harus bisa menyikapi kelulusan UN ini dengan bijak. Mereka yang lulus maupun mereka yang tidak lulus jangan sampai terjebak pada parameter UN belaka. Jangan sampai persoalan UN menjadi persoalan baru yang dihadapi masyarakat kita terutama kalangan orang tua dan siswa.

Satu hal yang penting dari kelulusan UN kali ini adalah menurunnya tingkat kelulusan UN di kalangan siswa. Pemerintah harus mencari tahu mengapa tingkat kelulusan UN mengalami penurunan. Harus diteliti, apa yang menyebabkan ketidaklulusan meningkat. Apakah benar ini karena meningkatnya kejujuran siswa, ataukah karena anak-anak memang tidak mampu mengerjakan soal yang diberikan. Ataukah juga karena meteri yang diberikan UN kali ini standarnya lebih tinggi. Semua variabel itu harus bisa dicari pemerintah untuk evaluasi bagi pelaksanaan UN ini. (***)


Sumber: Harian Joglosemar Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar