Selasa, 16 Juni 2009

UN jeblok, saatnya introspeksi diri

Pada Sabtu (13/6) lalu, hasil Ujian Nasional (UN) diumumkan. Yang mengejutkan, angka ketidaklulusan di Kota Solo mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.

Angka ketidaklulusan tahun ini mencapai angka 12,49%, naik dari tahun kemarin yang hanya 7,46%. Angka ketidaklulusan pelajar SMA di Kota Solo ini juga tertinggi se-wilayah Soloraya. Bandingkan dengan angka ketidaklulusan Kabupaten Sukoharjo yang hanya 0,1% (SOLOPOS, 14/6).

Beragam reaksi pun dilontarkan. Sebagian kalangan menilai penyebab tingginya angka ketidaklulusan pelajar SMA ini adalah kenaikan standar kelulusan UN dari 5 menjadi 5,5 dan adanya ketakutan para pelajar dalam menghadapi UN kali ini. Ada pula sebagian kalangan yang menganggap bahwa tingginya angka ketidaklulusan di Kota Solo justru merupakan pertanda keberhasilan pengawasan UN di Kota Solo. “Itu artinya, pengawasan UN di Solo berhasil. Pengawasan UN di Kota Solo memang terhitung lebih ketat dibandingkan daerah lain,” ucap seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Ya, kita sah-sah saja melontarkan beragam reaksi atas hasil UN kali ini. Namun, alangkah baiknya bila kita melakukan introspeksi diri. Mari bertanya kepada diri sendiri: mengapa angka ketidaklulusan pelajar SMA di Kota Solo terhitung tinggi bila dibandingkan daerah lain, tanpa perlu menuding pihak lain. Marilah kita terima hasil UN ini secara legawa karena bagaimana pun juga hasil UN merupakan kerja sama sebuah tim yang terdiri dari sekolah, guru, masyarakat dan siswa itu sendiri.

Sejak kali pertama diterapkan pada era 1980-an, UN selalu mengalami perubahan baik dalam sistem pelaksanaan hingga ke istilah. Namun, perlu dicatat pula, bahwa sejak kali pertama diterapkan, angka ketidaklulusan juga selalu ada. Di era 1980-an, pemeriksaan lembar jawaban UN masih pakai sistem manual dan standar kelulusannya 6 dengan waktu pelaksanaan tiga hari.

Namun, pada 2000-an, UN sudah mempergunakan sistem komputerisasi dan standar kelulusan sudah berubah menjadi 5,5 dengan waktu pelaksanaan selama lima hari. Bila melihat waktu pelaksanaan UN yang kian panjang dan standar kelulusan yang lebih rendah dibandingkan era 1980-an, seharusnya UN kali ini terasa lebih mudah bagi siswa dan seharusnya angka kelulusan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Tapi, fakta bicara lain. Ketika standar kelulusan sudah turun dari 6 menjadi 5,5 dan waktu pelaksanaan lebih panjang, kenyataannya jumlah siswa tidak lulus malah meningkat. Dari fakta ini, seharusnya kita mampu bertanya di mana letak kesalahan itu? Bisa jadi, kesalahan ada di kurikulum, cara pengajaran/penyampaian materi ajar kepada siswa, teknologi atau pada diri siswa yang kurang mampu menangkap materi ajar.

Dengan adanya evaluasi secara komprehensif, mudah-mudahan angka kelulusan UN tahun depan bisa lebih baik dibandingkan UN tahun ini. Semoga.


Sumber: http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h26&id=275896

Tidak ada komentar:

Posting Komentar