Senin, 22 Juni 2009

Biarkan Anak Memilih Sekolah


Musim penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2009/2010 segera dibuka. Seperti tahun-tahun sebelumnya, anak-anak dan orang tua dipusingkan oleh urusan perburuan sekolah. Penyebabnya, biaya pendidikan yang semakin mahal. Isu pendidikan gratis yang biasa dikampanyekan oleh para calon legislatif (caleg) dan calon presiden (capres) menjelang pemilu ternyata sekadar lips service atau janji palsu belaka.

Sebagai gambaran, pada tahun ajaran 2008/2009, untuk mendaftarkan anak ke SD negeri saja, orang tua harus menyediakan uang ratusan ribu rupiah. Uang tersebut dipergunakan untuk keperluan dana sumbangan pendidikan (DSP), uang pakaian seragam, tas, sepatu, dan buku-buku.

Untuk keluarga mampu, besarnya biaya pendidikan tentu tak jadi soal. Untuk keluarga miskin, apalagi yang memiliki lebih dari satu calon siswa baru, tentu dana yang harus disiapkan pun menjadi berlipat ganda. Itu belum sekolah swasta atau sekolah favorit, yang biaya pendidikannya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Tak mengherankan kalau setiap memasuki bulan Juni-Juli seperti sekarang ini, omzet Perum Pegadaian selalu naik, bahkan sampai 30-40 persen. Rupanya, banyak orang tua yang menggadaikan barang untuk menyekolahkan anak. Toko emas juga kebanjiran orang jual perhiasan.

Siksaan Psikologis

Problem yang dihadapi anak lebih rumit lagi. Tidak jarang keinginan anak berbenturan dengan ego dan cita-cita orang tuanya. Sebab, sebagian orang tua telah memiliki rencana-rencana ideal yang harus dipatuhi anak. Akibatnya, anak tidak memiliki kebebasan untuk memilih sekolah dan menentukan masa depannya sendiri.

Dalam memilih sekolah, misalnya, ada anak yang sebenarnya berbakat di bidang IPS. Namun, lantaran orang tuanya berkeinginan anaknya menjadi dokter, sang anak dipaksa masuk jurusan IPA dan sebaliknya.

Para orang tua selalu berharap agar anak mereka menjadi "be special" ketimbang orang kebanyakan (be average). Harapan ini sejatinya tidak salah. Hanya, orang tua harus menyadari bahwa buah hati mereka dilahirkan dengan sifat dan ciri khas tersendiri. Pendek kata, setiap anak terlahir dengan keunikan, kelemahan, dan kelebihan yang membedakan satu dengan yang lain.

Sayang, sedikit orang tua yang memahami kejiwaan dan potensi anaknya. Orang tua lebih sering menjadi penindas atau monster mengerikan. Mereka merebut dan mencabik-cabik imajinasi, ruang batin, dan cita-cita anak. Akibatnya, anak akan merasakan trauma psikologis yang akan terus membayangi hingga mereka dewasa kelak.

Siksaan psikologis itu belum berakhir. Pasalnya, begitu masuk bangku sekolah, anak masih harus mengalami berbagai tindakan kekerasan, baik dari rekan maupun gurunya. Misalnya, kekerasan fisik berupa pemukulan, kekerasan emosi berupa pengabaian, kekerasan verbal berupa kata-kata yang menyakitkan, kekerasan seksual, dan sebagainya.

Karena dipaksa menuruti ego orang tua dan masih mengalami berbagai bentuk kekerasan setelah masuk sekolah, anak akan menderita trauma psikologis yang disebut Didik Darsono (2007) sebagai "fobia sekolah". Kata "fobia" menurut Baker Encyclopedia of Psychology and Counseling adalah gangguan ketakutan yang tidak rasional atau irrational fear dari objek-objek atau situasi-situasi yang tidak berbahaya. Secara singkat, Ivan Ward (1989) mendefinisikan fobia sebagai ketakutan yang tidak masuk akal, tanggapan terkondisi terhadap pengalaman yang sifatnya traumatis.

Fobia sekolah adalah bentuk ketakutan yang tidak masuk akal terhadap sekolah. Gejala fobia sekolah biasanya muncul ketika anak akan berangkat sekolah. Fobia itu segera hilang setelah pulang dari sekolah atau hari libur. Selain itu, fobia sekolah ditandai dengan perilaku menolak masuk sekolah, sakit perut, sakit kepala, dan berbagai gangguan fisik lainnya.

Umumnya, para ahli membagi fobia sekolah dalam skala ringan sampai dengan berat. Pertama, fobia sekolah tahap awal atau disebut initial school refusal behavior. Fobia ini ditandai dengan perilaku anak yang menolak masuk sekolah secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari satu minggu.

Kedua, fobia substantial school refusal behavior atau perilaku menolak sekolah yang telah berlangsung lebih dari satu minggu. Fobia ini memerlukan penanganan yang serius dari orang tua dan harus melibatkan guru kelas, konselor anak, atau guru BP di sekolah.

Orang Tua Bijak

Sudah saatnya orang tua tidak memaksakan egonya dan mulai memahami psikologi anak. Orang tua harus memperlakukan anak dengan hati-hati, menempatkannya sesuai dengan potensi dan kelemahannya. Orang tua harus menjadi tipe orang tua ideal atau dalam bahasa Elkind disebut milk and cookies parents. Yaitu, orang tua yang mengiringi tumbuh kembang anak-anak dengan penuh dukungan dan menyayanginya secara tulus.

Orang tua model itu sangat cocok dengan karakteristik dan sifat khas anak. Sebab, mereka beranggapan bahwa setiap anak hebat dengan kekhasan dan kekuatan potensi yang juga berbeda. Pada akhirnya, anak memang milik orang tua. Tetapi, untuk persoalan masa depan, biarlah mereka memilih sendiri sesuai dengan bakat, potensi, dan keinginan. Kewajiban orang tua adalah membimbing tumbuh kembang segenap potensi itu agar tidak melenceng dan tepat sasaran. Semoga.


Oleh: Agus Wibowo, mahasiswa pascasarjana UNY Jogjakarta
Sumber: http://indopos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=75768

Tidak ada komentar:

Posting Komentar