Tampilkan postingan dengan label UN 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UN 2010. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Mei 2010

Anak penjual nasi itu membuat bangga SBY

Denpasar. Ibunda dari Kadek Indra Puspayanti hanyalah seorang penjual nasi campur. Namun dibalik kesederhanaan Kadek, ada prestasi yang membuat bangga Presiden SBY. Kadek dan temannya Ni Made Yuli Lestari meraih nilai UN SMP tertinggi di Indonesia, yaitu 9,95. SBY pun langsung menelepon mereka.

Telewicara SBY dengan dua Siswa peraih nilai UN SMP tertinggi, berlangsung di Gedung Jaya Sabha, Jl Surapati, Denpasar, Sabtu (8/5). Mereka didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Kepala Sekolah, dan orang tua. Sementara SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono berada di Cikeas.

SBY menyatakan gembira dengan prestasi Bali karena meraih 4 medali emas dalam UN sementara Jawa Timur dan Jawa Tengah mendapat masing-masing satu emas. Bali meraih medali untuk tingkat kelulusan tertinggi (98,6 persen), sekolah dengan rata-rata nilai tertinggi (9,38), dua emas lagi untuk siswa dengan nilai tertinggi (9,95).

Senin, 10 Mei 2010

Tujuh Sekolah Luluskan 100 Persen

SOLO. Tujuh SMP favorit di Kota Solo, meluluskan 100 persen hasil Ujian Nasional (UN). Kendati, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), sudah menyampaikan imbauan untuk tidak melakukan konvoi, namun masih ada sebagian siswa melakukan arak-arakan. Secara resmi pengumuman kelulusan di Kota Solo, secara serentak dilakukan mulai pukul 11.00-14.00 WIB, Jumat (7/5).

Kepala Disdikpora Kota Surakarta Rakhmat Sutomo mengatakan hasil kelulusan siswa tingkat SMP se-Surakarta belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sisi lain, terdapat beberapa satuan pendidikan yang mencapai angka kelulusan 100 persen, di antaranya SMPN 1, SMPN 3, SMPN 4, SMPN 8 serta SMP swasta meliputi SMP Pangudi Luhur Bintang Laut, SMPIT Nur Hidayah dan SMP Kristen Pelita Nusantara Kasih.

“Dari jumlah total siswa SMP 11.031, MTs 785 dan lima sekolah terbuka, sebanyak 1.871 murid belum lulus UN utama. Demikian halnya dengan kejadian sekolah yang persentase ketidaklulusan hampir 70 persen hanya ada di dua atau tiga sekolahan saja,” kata Rakhmat, Jumat (7/5).

10 SMP Sukoharjo Lulus 100%

SUKOHARJO. Sebanyak 10 dari 78 SMP/MTs baik negeri maupun swasta di Sukoharjo, berhasil meluluskan siswanya 100 persen dalam Ujian Nasional (UN) 2010 ini. Dari jumlah 10 sekolah tersebut terdiri dari delapan SMP dan dua MTs.

Kepala Bidang SMP/SMA/ SMK Dinas Pendidikan (Disdik) Sukoharjo, Dwi Atmojo Heri mengatakan, untuk tingkat persentase kelulusan terendah SMP negeri mencapai 75 persen, sedangkan angka kelulusannya mencapai 25 persen.

“Persentase kelulusan siswa terendah ada di SMP terbuka, yang beralamat di Kecamatan Bulu. Sebab, dari 12 siswa, yang lulus hanya tiga orang saja,” kata Hari, Jumat (7/5).

Senin, 03 Mei 2010

Banyak Siswa Bunuh Diri, UN Jalan Terus

Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh menyatakan, nilai kelulusan Ujian Nasional (UN) SMA/MA 2010 mengalami kenaikan dari 7,25 pada tahun 2009 menjadi 7,29 persen. Dari total peserta UN SMA/MA sebanyak 1.522.162 siswa, terdapat 154.079 (10,12 persen) siswa yang mengulang. Sementara jumlah siswa yang tidak mengulang 1.368.083 (89,88%) siswa. Mendiknas mengatakan, berdasarkan analisis internal yang dilakukan, salah satu faktor penyebab turunnya kelulusan adalah karena pengawasan yang lebih ketat.

Banyaknya siswa yang tak lulus UN, membuat sejumlah siswa memilih melakukan tindakan nekat. Mulai dari mencoba bunuh diri, merusak sekolah, hingga mengadukan ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Siswi SMA Pancasila 1, Wonogiri Virginia Endah, salah satu contohnya. Dia bahkan nekat menenggak cairan pengharum ruangan, meski hasil UN belum diumumkan secara resmi.

Virginia nekat menenggak cairan pengharum ruangan. Beruntung, neneknya segera tahu, sehingga korban masih sempat dilarikan ke rumah sakit, Senin, 26 April lalu.

Rabu, 28 April 2010

Duh, 267 Sekolah 100 Persen tak Lulus UN

JAKARTA. Jumlah sekolah yang 100 persen tidak lulus Ujian Nasional (UN) tahun ini berjumlah 267 (1,62 persen) daritotal 16.467 sekolah yang mengikuti UN. Dari 267 sekolah tersebut, jumlah siswa yang tidak lulus sebanyak 7.648 (0,50 persen) siswa dari total 1.522.156 siswa yang mengikuti UN.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, mengatakan, sekolah yang kelulusannya 0 persen (ketidaklulusan 100 persen) paling banyak adalah sekolah swasta. Perbandingannya, sekolah negeri 34,02 persen dan sekolah swasta 65, 98 persen.

Dari 267 sekolah, 51 sekolah negeri yang ketidaklulusannya 100 persen dengan jumlah siswa sebanyak 2.602 siswa, sementara sekolah swasta berjumlah 216 sekolah yang ketidaklulusan siswanya 100 persen dengan jumlah siswa sebanyak 5.046 siswa. Sementara, sekolah yang kelulusannya 100 persen sebanyak 5.795 sekolah atau 35,17 persen, dengan jumlah siswa sebanyak 418.885 orang atau 27,52 persen.

Selasa, 27 April 2010

2.600 Siswa di Solo mengulang ujian

Solo (Espos). Dibandingkan tahun lalu angka kesuksesan siswa di Kota Solo menyelesaikan soal ujian nasional (UN) cenderung merosot.Sedikitnya ada 2600 siswa yang harus mengulang di UN kedua.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Rakhmat Sutomo, dibandingkan tingkat nilai pencapaian siswa menyelesaikan UN tahun lalu, jumlah siswa yang harus mengulang pada ujian kedua cukup signifikan. Dia mengatakan, dari 7.239 peserta SMA dan MA, hanya 77,07% yang dinyatakan lulus atau ada 1.660 siswa di antaranya yang harus mengulang . Sementara di tingkat SMK presentase kelulusan juga menurun dibandingkan sebelumnya dari 97,26% merosot menjadi 87,09%.

“Untuk SMK tingkat kelulusan mencapai 87,09%, sementara siswa yang tidak lulus mencapai 940,” jelas Rakhmat , didampingi Sekretaris Disdikpora Solo, Untara dan Ketua Panitia UN, Maskuri di Solo, Senin (26/4).

509 Siswa tak lulus UN

Sukoharjo (Espos). Sebanyak 509 siswa SMA/SMK/MA sederajat di Sukoharjo dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN) 2010. Kendati begitu, mereka diharapkan mengikuti ujian nasional ulang tanggal 10-14 Mei mendatang.

Berdasar data yang dilansir Dinas Pendidikan Sukoharjo, tingkat kelulusan UN SMA tahun 2010 ini mencapai 96,69 %, mengalami penurunan sebesar 1% dibanding tahun 2009 sebesar yang mencapai 97,76%. Sementara tingkat kelulusan SMK mengalami kenaikan 3,19%.

Kabid SMP/SMA/SMK Dinas Pendidikan Sukoharjo, Dwi Atmojo Heri, mengatakan, jumlah siswa SMA sederajat yang tidak lulus di Sukoharjo mencapai 509 siswa, terdiri dari siswa SMA 330 siswa, siswa MA 83 siswa dan siswa SMK sebanyak 96 siswa.

Minggu, 25 April 2010

Antisipasi Kelulusan dan Pilkada

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) maupun ujian ulangan 2010 tingkat SLTA sederajat sudah usai, diakhiri ujian praktik dan ujian sekolah pada 12-15 April 2010. Di Kota Surakarta menjadi cukup unik dan menarik. Pasalnya pengumuman lulus ujian yang sedianya dilaksanakan pada Senin, 26 April, bersamaan dengan pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) yang mengacu pada Peraturan KPU Nomor 42 tahun 2009.

Pengumuman kelulusan sebagai saat yang dinanti bagi siswa yang menempuh UN. Berbagai ungkapan rasa timbul, baik harap-harap cemas, deg-degan, gundah, gemas maupun bingung menyelimuti. Emosional hati, pikiran dan perasaan meningkat. Sebab bila berhasil, aksi kegembiraan yang berapi-api sangat tampak di permukaan. Bahkan sering kali tanpa kendali.

Hal itu terjadi karena sampai saat ini UN masih menjadi penentu keputusan kelulusan. Sebagai bagian kebijakan Kementrian Pendidikan Nasional, UN hanya menjalankan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagai turunan dari UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sikapi Kelulusan UN dengan Bijak

Pagi ini, suasana hati ribuan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat di Tanah Air berkecamuk. Itu bisa dimengerti karena hari ini, Senin (26/4) merupakan hari pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN). Bagi mereka yang lulus pasti akan disambut dengan suka cita, sementara sebaliknya bagi mereka yang lulus pasti akan bersedih.

Kalau mengaca pada data yang dikeluarkan pemerintah, maka pada tahun ini jumlah siswa yang tidak lulus UN lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Secara nasional, tingkat kelulusan UN 2010 menurun empat persen dari tahun lalu. Angka kelulusan yang semula 93,74 persen kini menjadi 89,88 persen. Berdasarkan data Badan Standar Nasional Pendidikan, terdapat 154.079 siswa yang mengulang ujian dari total peserta 1.522.162 siswa.

Patut diberikan pemahaman kepada para siswa baik yang lulus maupun yang tidak lulus. Bagi siswa yang tidak lulus UN bukan berarti sudah habis peluangnya untuk maju. Selain mereka masih mempunyai peluang untuk mengulang UN pada Mei mendatang, tidak lulus UN juga berarti akan menentukan segalanya bagi masa depannya. Masih banyak peluang lain yang ditempuh di luar mengikuti standar pendidikan yang ada.

Kamis, 18 Maret 2010

40% siswa SMA/MA di Solo tak lulus try out bersama

Solo (Espos). Sekitar 40% siswa SMA dan MA dinyatakan tidak lulus pada try out atau latihan ujian bersama yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, faktor ketidaklulusan ditunjang karena sejumlah siswa salah dalam mengisian lembar jawab.

Menurut Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Solo, Edy Pudiyanto, sedikitnya dalam mempersiapkan UN masing-masing sekolah memberikan pelatihan soal kepada siswa sedikitnya sembilan kali.

Dia mengatakan, secara kemampuan akademik sejumlah siswa tersebut telah menguasai materi pelajaran yang diujikan, namun ada beberapa faktor seperti ketelitian dalam pengisian lembar jawab komputer yang menjadi kendala utama.

"Mitos-mitos" Ujian Nasional?

Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan ujian nasional kembali mendapat dukungan dengan ditolaknya kasasi pemerintah oleh Mahkamah Agung.

Tidak berlebihan untuk memandang putusan itu sebagai tonggak penting dalam mendorong evaluasi berbagai kebijakan pendidikan selama ini. Sayang, pemerintah tampaknya berkeras menggunakan hasil ujian nasional (UN) sebagai salah satu penentu kelulusan melalui rencana peninjauan kembali. Beberapa argumen yang dilontarkan untuk mendukung UN sebenarnya masih terbantahkan.

Penilaian guru tidak konsisten?

Bagaimana menentukan kelulusan siswa dari suatu jenjang pendidikan bila tidak ada UN? Bukankah penilaian guru amat bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lain, bahkan dari satu kelas ke kelas lain? Berbagai pertanyaan semacam itu muncul karena kekhawatiran yang bersumber dari ketidakpercayaan terhadap penilaian yang diberikan guru.

UN, Ujian yang tidak Mengevaluasi

Saya menduga bila tidak ada kasus kriminalisasi KPK atau Pansus Bank Century dan sekarang disusul oleh penembakan kelompok teroris, boleh jadi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) akan menjadi berita utama di media massa, sebagaimana tahun-tahun lalu. Lebih-lebih tahun ini pelaksanaannya terkesan dipaksakan bila dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung tentang hal itu.

Apa mau dikata, UN akan kembali hadir dalam beberapa hari lagi di tengah masyarakat yang masih menuai kontroversi di kalangan para pemangku kepentingan pendidikan. Sementara itu, ketegangan yang senantiasa memengaruhi kondisi kejiwaan mulai dirasakan oleh para siswa, orang tua, dan pendidik. Biarlah pakar-pakar hukum membahas lebih jauh bagaimana keputusan lembaga hukum tertinggi dapat begitu saja diabaikan. Faktanya, pemerintah masih menganggap bahwa UN masih merupakan metode terbaik sebagai standardisasi kelulusan tingkat sekolah. Mendiknas menyatakan, UN masih dinilai paling banyak memiliki sisi positif dibandingkan dengan metode lainnya yang pernah kita gunakan mulai dari 1965 sampai sekarang, yaitu ujian negara pada 1965-1971 ataupun ujian sekolah pada 1972-1979. Ujian Nasional merupakan ubah wujud dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), yang dimulai 2001.

Selasa, 23 Februari 2010

Dilema Ujian Nasional

Momok yang paling menakutkan bagi siswa kelas 3, ujian akhir nasional (UAN) sudah di depan mata. Tahun 2010 ini, UAN akan dilaksanakan pada 22 – 26 Maret 2010 untuk SMA/SMK/SMALB, 29 Maret - 1 April 2010 untuk SMP/MTs/SMPLB, dan 4-6 Mei 2010 untuk SD/MI/SDLB. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh pihak sekolah maupun para siswa. Mulai dari persiapan akademis, psikologi maupun taktis.

Bekal akademis diberikan melalui penambahan jam belajar untuk mata pelajaran yang diujikan. Bekal psikologis diinput melalui pendekatan training motivasi baik lewat ceramah, kunjungan studi maupun lewat pendekatan agama. Nah, persiapan ketiga adalah bekal taktis. Persiapan ini agak unik karena penuh dengan akal busuk dan permainan kotor yang melibatkan guru.

Siapa yang tak sedih jika melihat siswa binaannya tak lulus UAN? Sekolah mana yang tak malu jika banyak siswanya tak lulus ujian? Maka dilakukan strategi-strategi penyelamatan secara sistematis. Suatu kali saya pernah menanyakan kepada seorang kepala sekolah terkait tingkat kelulusan siswanya tahun kemarin. Dengan agak diplomatis beliau menjawab, “semuanya diluluskan”. Ada sedikit kejanggalan. Bukankah kelulusan tergantung pencapaian nilai minimal? Bahasa yang digunakan sang Kepala Sekolah, “diluluskan” bukan “lulus”. Artinya terdapat unsur pihak ketiga. Setelah dikejar, ternyata beliau mau mengaku bahwa semuanya diluluskan dengan pertolongan guru-guru yang memberikan jawaban soal saat ujian. Wah…

Senin, 08 Februari 2010

Awal Maret, Kartu Peserta UN Dibagikan

SOLO. Kartu peserta ujian nasional (UN) telah siap untuk dibagikan, awal bulan Maret, mendatang. Distribusi kartu peserta UN setelah diterbitkannya daftar nominasi tetap (DNT) oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jateng.

Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA, Edi Pudiyanto menyatakan DNT yang sebelumnya telah diverifikasi, sudah dikirimkan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta. Selanjutnya, daftar tersebut akan dikembalikan lagi kepada sekolah untuk proses verifikasi akhir.

“Diharapkan pihak sekolah benar-benar teliti dalam penulisan nama dan identitas siswa. Hal ini, sangat penting mengingat kaitannya dengan penulisan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) yang diterbitkan oleh dinas provinsi,” katanya, Jumat (5/2).

Ditambahkan Edi, terkait masalah verifikasi kartu ujian dan penetapan DNT. Hal itu masih dimungkinkan untuk diperbaiki terjadinya kesalahan teknis komputer. Setelah dikumpulkan kembali, kemudian akan menjadi DNT akhir dan akan dikirim ke dinas provinsi lagi.

Kamis, 21 Januari 2010

Bimbel Jelang UN Konsep Keliru


BANDUNG. Kegiatan atau program pemantapan dan bimbingan belajar (bimbel) yang marak diadakan beberapa bulan menjelang Ujian Nasional (UN) dinilai sebagai konsep yang keliru dan berbahaya jika dilanjut.

"Bimbel dan latihan-latihan di sekolah tiga bulan menjelang UN menggambarkan anak tidak lagi dalam konsep pendidikan, tapi dalam proses belajar untuk ujian dan merupakan gejala yang tidak baik," kata pakar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Prof Said Hamid Hasan.

Menurut dia, proses pendidikan semacam itu sangat berbahaya jika diteruskan. Jika pemerintah mau melakukan UN, seharusnya tidak ditujukan untuk menentukan kelulusan, tapi mungkin untuk memperbaiki kondisi sekolah.

Menjelang UN yang dimajukan menjadi bulan Maret mendatang, sekolah-sekolah, baik SMP maupun SMA, mengadakan program pemantapan untuk para siswa kelas IX dan XII. Selain itu, para siswa peserta UN beramai-ramai mengikuti bimbel.

Tekanan Said berpendapat, sebenarnya konsep pemantapan dalam pendidikan perlu dilakukan tetapi bukan dalam bentuk seperti yang terjadi sekarang ini. Pemantapan seharusnya diadakan untuk mereka yang nilai ulangannya kurang.

Selasa, 19 Januari 2010

Guru Diminta tak Vonis Anak Pintar dan Bodoh


BANDAR LAMPUNG. Dalam proses belajar-mengajar di sekolah formal, guru kelas dan mata pelajaran seharusnya mencari potensi anak, bukan memvonis anak pintar dan bodoh.

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar FKIP Universitas Lampung (Unila), Prof Dr Sudjarwo, dalam seminar pendidikan, Senin (19/10). Menurut dia, seharusnya seorang guru mempunyai kecakapan diagostik dan kompentensi aplikatif.

"Sebagai guru harus bisa menggali potensi atau kemampuan anak didik untuk dikembangkan, bukan memvonis anak ini pintar dan ini bodoh," ujar Sudjarwo.

Selain itu, Sudjarwo mengungkapkan, seorang guru harus memiliki otonomi untuk mengatur anak didiknya. Selanjutnya, sama seperti organisasi profesi lainnya, guru harus memiliki kode etik. Kode etik yang dikeluarkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) harus dipatuhi bagi yang tergabung dalam organisasi tersebut. ''Pendidik atau guru harus mempunyai ciri dan prinsip profesionalitas, di antaranya harus ada keahlian khusus,'' jelasnya.

Senin, 18 Januari 2010

Ujian Nasional: Kegagalan Siswa adalah Kegagalan Guru, Kenapa Keberhasilannya Tidak?


Kegagalan sebenarnya hal yang biasa saja, karena setiap orang bisa mengalami, dan kadar menyakitkannya tergantung dari sudut mana dirasakan. Sebagian orang bahkan mengatakan, kegagalan itu tidak ada, yang ada hanyalah hasil, dan umpan balik. Keduanya bermanfaat asal tahu cara menemukan hikmahnya. Tetapi kebanyakan orang merasakan kegagalan sebagai aib.

Contohnya dalam dunia pendidikan, pernah ketika banyak anak didik tidak lulus di beberapa sekolah negeri, tidak disangka-sangka ada wakil rakyat dan petinggi dinas pendidikan yang langsung menudingkan telunjuknya ke arah biang kegagalan itu. Ini karena guru-gurunya pemalas, hardik mereka.

Sebaliknya, meskipun pada ujian nasional itu juga banyak keberhasilan dicapai para anak didik, meraih prestasi puncak di berbagai mata pelajaran dengan nilai sempurna, yaitu sepuluh, hampir tidak terdengar sekelumit pun pujian ditujukan kepada para guru mereka. Malahan mereka menuduh itu hasil kecurangan guru-gurunya.

Sehingga, walaupun kinerja para guru itu dibuat sebagus apapun sampai berdampak nyata membawa keberhasilan anak-anak didik, tetap saja giliran merayakan keberhasilan, belum banyak kepedulian diberikan kepada mereka yang ada di balik keberhasilan anak-anak didik itu.

Sistemiknya UN


Dampak nyata diberlakukannya UN sebenarnya justru pada pelaksanaan kurikulum yaitu pembelajaran di sekolah. Pembelajaran tidak lagi sebagai tuntutan kurikulum tetapi lebih mengarah pada tuntutan tercapainya nilai UN. Ini berarti pengingkaran terhadap kurikulum yang merupakan esensi dari pelaksanaan pendidikan.

Pembelajaran kontekstual (CTL, Contekstual Teaching and Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang paling disarankan dan sesuai dengan kurikulum yang kini berlaku yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (yang kemudian di-KTSP-kan). Dalam pembelajaran kontekstual terkandung pembelajaran yang berbasis life skill (general life skill). Selain itu pembelajaran ini juga mengisyaratkan bahwa pembelajaran harus ada keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Banyak referensi berupa istilah (akronim) yang mengacu pada pembelajaran yang berbasis CTL. Yang sekarang ini lagi populer adalah istilah Paikem Gembrot (saya tidak mengerti mengapa istilah semacam ini dipakai oleh para pengembang). Paikem disini-kalau tidak salah-akronim dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kretif, Menarik. Yang pasti istilah ini dimaksudkan mengacu pada pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan proses daripada hasil. Ini sesuai dengan landasan berpikir konstruktivisme yang merupakan dasar filosofis pembelajaran kontekstual. Dalam pandangan konstruktivisme strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan (Depdiknas, 2003).

Senin, 04 Januari 2010

TRY OUT UN DAN UASBN

Buat adik-adik kelas VI SD dan IX SMP yang ingin sukses dalam menghadapi UN/UASBN, bergabunglah segera dalam TRY OUT UN/UASBN Bimbingan Belajar dan Komputer (BBK) "STUDY INTENSIVE PLUS".
Baca informasi sejelasnya di sini (klik gambar di bawah ini)...!!!


Brosur Try Out ~ UN 2010 untuk Adik-adik Kelas IX SMP





Brosur Try Out UASBN 2010 untuk Adik-adik Kelas VI SD