Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

Psikolog: Keluarga tentukan perkembangan kepribadian remaja

Keluarga sangat menentukan prestasi dan perkembangan kepribadian anak di usia remaja.

Demikian disampaikan psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kwartarini Wahyu Yuniarti, Sabtu (18/6/2011)

“Interaksi anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya menyebabkan seorang anak lebih mengetahui perannya sebagai individu dan makhluk sosial,”
kata Yuni.

Menurut dia, hal itu berbeda dengan konsep psikologi Barat yang menitikberatkan perkembangan kepribadian remaja berdasarkan lingkungan teman sekitarnya.

Senin, 13 Juni 2011

Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur

Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur malah ajur!

Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki.

Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, menghujat tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang kemarin. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya.

Padahal, agenda pertemuan tersebut sebenarnya mediasi antara warga dan wali murid dengan Siami. Namun, rembukan yang difasilitasi Muspika (Musyarah Pimpinan Kecamatan Tandes) itu malah berbuah pengusiran. Mediasi itu sendiri digelar untuk menuruti tuntutan warga agar keluarga Siami minta maaf di hadapan warga dan wali murid.

Rabu, 18 Mei 2011

Bangkitkan Indonesia dengan Pendidikan

Berdirinya budi utomo pada 20 mei 1908 adalah langkah awal bangkitnya rasa nasionalisme bagi bangsa Indonesia, maka dari itu hari lahirnya budi utomo ini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia.

Namun, semangat kebangsaan itu tidak statis, tetapi harus terus dipelihara dan diperkuat dari waktu ke waktu mengingat suatu saat nanti generasi penerus indonesia akan menghadapi zaman, iklim dan perjuangan yang sama sekali berbeda dengan hal hal yang yang telah kita dan pendahulu kita lakukan untuk memajukan negeri ini.

Walaupun untuk mengubah negeri untuk lebih maju itu tidak semuadah membalikan telapak tangan Salah satu alternatif bagi kita untuk memajukan bangsa ini adalah dengan memajukan dunia pendidikan di Indonesia dan hal ini juga menjadi pr penting bagi pemerintah. Oleh karena itu sistem pendidikan yang baik dan sarana penunjangnya harus dijadikan batu loncatan bagi kebangkitan nasional kedua.

Siswa main PS saat jam sekolah, guru harus tanggung jawab

Orangtua sebaiknya meletakkan komputer di ruang tamu, ruang kerja orangtua atau ruang tamu. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat ideal meletakkan komputer sebagai salah satu upaya mengatasi dampak buruk penggunaan komputer dan Internet.

Pendapat itu disampaikan staf pengajar di Jurusan Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Didiek S Wiyono, saat menjadi pembicara Seminar Nasional bertema Wujudkan Generasi Teknologi, Generasi Islami dan Generasi Berbudi di aula kampus PGSD UNS, Solo, Selasa (17/5). Seminar tersebut diselenggarakan oleh Sentra Kegiatan Islam PGSD UNS.

Tempat tidak ideal untuk meletakkan komputer, katanya, adalah kamar tidur, ruang bermain anak atau ruang yang jarang mendapat perhatian lainnya. Selain meletakkan komputer pada tempat ideal, ungkapnya, pengaruh buruk teknologi juga bisa diatasi dengan menemani dan membimbing anak saat mengakses Internet, membuat jadwal penggunaan komputer, membuat kesepakatan apa yang boleh dilakukan anak dan apa yang tidak boleh dilakukan anak, memilihkan program aplikasi yang tepat bagi anak, mengembangkan kemampuan anak dalam menggunakan komputer dan Internet.

Senin, 02 Mei 2011

Pendidikan karakter jadi gerakan nasional

Pendidikan berbasis karakter akan menjadi gerakan nasional mulai tahun ajaran 2011/2012. Hal ini dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi, termasuk di dalamnya pendidikan nonformal dan informal.

Hal itu ditegaskan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, saat memberikan sambutan dalam upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebagaimana dibacakan Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, saat upacara Hardiknas di Balaikota Solo, Senin (2/5/2011).

Sementara Walikota Solo, Joko Widodo, menilai pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan di Kota Solo, masih biasa saja. Ia berharap pelaksanaan pendidikan karakter lebih dikuatkan dan lebih aplikatif.

Perjuangan Tiada Akhir Pak Zul, Guruku

Saya punya seorang sahabat, namanya Zulhiswan, biasa dipanggil Pak Zul. Beliau guru matematika. Saya sering menganggap beliau sebagai guru, karena petuah-petuahnya dan karena perbedaan umur kita yang cukup jauh.

Saat ini beliau sudah berkepala lima, jadi sudah lama menjadi guru. Akan tetapi, beliau tidak berpangkat alias bekerja sebagai guru tidak tetap. Dulu, di saat guru lain diangkat menjadi PNS, beliau menjadi guru honorer. Sekarang di saat guru lain mampu mengendarai mobil dan membeli rumah real estate, beliau masih menunggang motor Honda tuanya dan tinggal di perumnas. Beliau guru yang sangat sederhana.

Beliau bekerja dengan penuh dedikasi untuk murid. Beliau tidak sibuk mengejar kompetensi pribadi, tetapi sibuk mengejar kompetensi murid. Beliau tidak sibuk mengejar prestasi pribadi, tetapi sibuk mengejar prestasi murid. Beliau tidak memanfaatkan karya muridnya untuk kepentingan pribadi, tetapi memanfaatkan karya pribadinya untuk kepentingan muridnya.

Kapan kualitas pendidikan akan meningkat?

Semua orang sudah paham bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Karena bersifat jangka panjang, banyak orang malas untuk berpikir panjang. Keuntungan atas investasi itu terlalu lama. Maka, untuk apa berinvestasi lama-lama? Lagian, keuntungan itu tidak diberikan kepadanya. Sebuah pikiran picik dan teramat dangkal. Namun, itulah kenyataan!

Pendidikan kita mustahil maju. Dengan kebijakan yang terlalu dinamis dan kekurangpedulian pemerintah, kualitas pendidikan justru cenderung turun. Penurunan kualitas itu dapat dilihat dari pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Setelah pemberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada 2004, aku berkesimpulan bahwa kualitas pendidikan kita menurun, baik proses maupun hasilnya.

Kondisi itu diperparah oleh pemberlakuan otonomi daerah. Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Guru cenderung berbau korupsi. Guru-guru baru banyak berasal dari latar pendidikan non-guru. Meskipun mereka mendapatkan pengakuan Akta IV, itu tidak serta menjamin bahwa mereka layak menjadi guru. Ijazah Akta IV begitu mudah didapat. Mahasiswa hanya diwajibkan memenuhi beberapa Satuan Kredit Semester (SKS) yang teramat sedikit. Maka, jadilah guru serba instan. Sebenarnya, sesuatu yang diperoleh secara instan tentu tidak mungkin berkualitas baik!

Sekolah Buruh

Hari ini tanggal 2 mei 2011, bangsa kita merayakan hari Pendidikan Nasional. Hari ini merupakan hari yang istimewa karena merupakan hari yang menentukan nasib sebuah bangsa. Pendidikanlah yang memberikan andil demikian besar bagi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa yang ingin maju dan besar maka harus memajukan dan membesarkan dunia pendidikannya.

Pendidikan bertumpu pada sekolah. Sekolah yang baik akan menghasilkan siswa yang baik. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sekolah harus mendapatkan perhatian yang besar dari semua unsur Negara, baik itu pemerintahan maupun rakyatnya.

Beberapa waktu yang lalu, sekolah kita menyelenggarakan ujian nasional. Baik tingkat SLTP maupun SLTA. Ujian tersebut akan menentukan nasib para siswa kita apakah bias melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ujian nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional akan menentukan nasib bangsa ini beberapa puluh tahun yang akan datang. Mereka yang lulus tahun ini akan memberikan kontribusinya beberapa tahun yang akan datang. Kontribusi tersebut akan menentukan arah dan masa depan bangsa Indonesia.

Apakah mereka yang lulus tahun ini akan menjadi pencari kerja, pekerja atau buruh, atau menjadi orang yang menyediakan lapangan kerja. Kedua hal ini merupakan hasil atau produk sebuah sekolah. Sekolah yang berorientasi kualitas akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Begitu pula sebaliknya. Artinya, lulusan sebuah sekolah merupakan cerminan dari sekolah tersebut.

Sekolah Pemulung

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pemebelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dii, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan terdiri atas beberapa jenjang yang merupakan tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Misalnya saja, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, jalur pendidikan, pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Nah, di Indonesia pendidikan dibagi atas beberapa jenis, yaitu pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pedidikn akademik, pendidika profesi, pendidikan vokasi, pendidikan kagamaan, dan pendidikan khusus.

Di era sekarang, dunia pendidika di Indonesia menjadi heboh. Kehebohn tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Saat ini, gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajuan teknologi dan prubahan yang terjadi memberikan kesadaran bau bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka yang membuat orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Atmosfer ketertinggalan di dalam mutu pendidikan begitu hangat terasa. Baik itu pendidikan formal maupun informal. Parahnya, hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya denga negara lain.

Suatu hal yang tidak terbantahkan bahwa pendidikan adalah penopang dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karenanya, dibutuhkan kekuatan yang besar dalam peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia agar tidak kalah bersaing dengan kualitas mutu sumber daya manusia di Negara-negara lain.

Mengintip Sistem Pendidikan Abad Pertama

Saya sedikit penasaran dengan cara orang-orang dari abad pertama berinteraksi dalam proses belajar mengajar. Sebuah buku yang saya baca menceritakan bahwa minimnya manuskrip (lembar kulit hewan atau perkamen), saat ini yang kita kenal kertas, menuntut dilakukannya tradisi lisan dan budaya mengingat secara komunitas.
Seorang guru biasanya mengulangi bagian ajarannya sampi beratus kali. Seorang peneliti tradisi belajar abad mula-mula dalam b.Hag. 9b (bar., Ibid Hal 134-135) mengatakan “Seorang guru biasanya mengulangi setiap bagian dari ajarannya ‘empat ratus kali’ untuk murid yang lamban, bahkan sampai ‘enam ratus kali’ jika murid itu masih belum juga menghafalkannya”. Deskripsi hiperbolis ini memberikan kesan akan metode mengajar yang sederhana namun dipandang efektif, hanya menuntut kesabaran sang guru dan muridnya.
Di Sinagoge (semacam tempat diskusi) atau di daerah-daerah perbukitan, pada abad itu akan mudah ditemui seorang guru sedang menyampaikan ajarannya kepada beberapa orang muridnya (terkadang mencapai ratusan). Tidak satupun murid itu harus mendaftar terlebih dulu, mereka datang karena keinginan sendiri. Meskipun dalam berkali-kali pertemuan, ajaran yang disampaikan hampir sama, tetapi tidak banyak yang mundur. Esok hari, ketika terdengar sang guru akan mengajar di suatu tempat, mereka akan kembali berkumpul dengan senang hati.

Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa



Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasiaonal. Saya menyimak isi sambutan Bapak Menteri Pendidikan Nasional. Isi dari sambuatan itu sungguh merupakan angin suraga yang sumilir ditengah hiruk pikuk dan terpuruknya dunia pendidikan kita. Bapak Menteri dalam pidatonya di peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini adalah:

Pendidikan Seharusnya E.D.U.C.A.T.I.O.N


Untuk dapat memahami hakikat pendidikan sebenarnya sederhana saja Art-Ong Jumsai Na-Ayudha (2008) dalam bukunya Human Values Integrated Instructional Model, menyebutkan sebagai berikut:

E = Enlightenment (Pencerahan).

D = Duty and Devotion (Tugas dan pengabdian)

U = Understanding (Pemahaman)

C = Character (Karakter)


A = Action (Tindakan)

T = Thanking ( Berterimakasih)

I = Integrity (Integritas)

O = Oneness (Kesatuan)

N = Nobility (Kemuliaan)

Sumber: Kompasiana

Menggugat Pendidikan di Indonesia

Pendidikan yang seharusnya mampu menjadi sumber pencerahan dan pemecah masalah kini justru menjelma menjadi masalah dalam kehidupan. Bagaimana tidak?, pendidikan yang awalnya mulia dengan bertumpu pada filosofi bahwa pendidikan adalah untuk “me-manusiakan manusia” telah direduksi total maknanya hingga hanya menjadi sekedar pengajaran atau pelatihan semata. Hal ini kemudian memunculkan masalah yang sangat kompleks sebab output dari pendidikan yang seyogyanya menciptakan manusia ”beradab”, faktanya justru menghasilkan manusia-manusia ”biadab” dengan fungsi rasionalitas yang dianggap wajar pada struktur sosial masyarakat.

Dalam hal ini kita harus jeli dalam membedakan antara pendidikan dan pengajaran sebab jelas kedua hal tersebut sangat berbeda. Hal ini kemudian tercermin pada sekolah dan universitas-universitas di negeri ini yang menurut saya hanya mampu menciptakan sistem pengajaran yang baik. Namun belum mencapai ranah pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Terlalu banyak guru dan dosen yang bukan pendidik, hanya sebatas pengajar yang terkadang arogan dalam berkreasi hingga terkadang seolah berkuasa terhadap ilmu pengetahuan.

Pintar Akademik, Catatan untuk Hardiknas 2011

Minggu, 1 Mei 2011, sekitar pukul 21.00 an, di stasiun tv pemerintah, saya tidak sengaja melihat Bapak M Nuh, Mendiknas, menyampaikan pidato. Tidak semua saya dengar, namun ada satu statmen yang menarik berkenaan dengan pendidikan. Istilah itu adalah ‘kepenasaranan intelektual’. Dimana disebutkan bahwa kepenasaranan intelektual tersebut akan melahirkan kreativitas. Saya menebak, bahwa istilah Pak Mendiknas itu bersinonim dengan apa yang sya pahami selama ini dengan istilah inkuiri. Dan jika benar itu yang dimaksudkan, maka pertanyaan saya berikutnya adalah; Apakah kompetensi ini diujikan di Ujian Nasional kita?

Pertanyaan itu penting agar semua yang memegang otoritas pendidikan di negeri ini jangan menuntut sesuatu yang memang tidak diukur dalam Ujian Nasional. Karena jika itu yang disampaikan, saya yakin bahwa tuntutan itu akan tetap menjadi pepesan kosong. Karena pendidikan sekolah kita hanya berujung kepada satu asessmen yang bernama Ujian Nasional. Dan khusus untuk siswa di sekolah menengah atas atau SMA, ia akan menjalani dua (2) kali ujian. Yaitu Ujian Nasional yang diselenggarakan sebagai akhir dari jenjang pendidikan SMA. Dan Ujian untuk masuk perguruan tinggi (negeri), yaitu SMNPTN atau seleksi masuk nasional perguruan tinggi negeri. Dua ujian yang berbeda kepentingannya. Hasil pendidikan kita dengan ending seperti itu, masih terfokus kepada hasil akademik. Oleh karena itulah maka out put dari sekolah kita adalah pintar akademik.

Pintar Akademik

Memaknai Kembali Hardiknas

SETIAP 2 Mei bangsa ini memperingati hari lahirnya Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar roh pendidikan, mengawali perjuangannya melalui Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada 1922. Kemudian sejak 1959 diabadikan oleh pemerintah menjadi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan setiap tahun ini harus menjadi bahan evaluasi dan koreksi bagi pemerintah dan khususnya insan pendidikan, agar mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jika berbicara kualitas pendidikan, perlu kita evaluasi dan dikaji ulang bersama-sama, terutama bagi semua komponen pendidikan yang secara langsung memberikan kontribusi terhadap jalannya pendidikan. Hal itu dapat dirunut secara vertikal, dari pemerintah sampai tingkat sekolah. Sudahkah pemerintah selama ini memberikan pengayoman bagi kelancaran proses pendidikan? Dan, sudahkah pendidik bekerja secara profesional?

Di tingkat sekolah, guru sebagai komponen utama pendidikan juga perlu mengevaluasi kinerjanya dalam mewujudkan keberhasilan proses pendidikan secara menyeluruh. Tugas dan tanggung jawabnya harus didasarkan atas semangat pengabdian untuk mendedikasikan hidupnya guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selasa, 26 April 2011

Kegagalan Sistem Pendidikan Asia

Pada edisi 26 Maret 2010, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia, Science, memuat sebuah artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak. Dituturkannya bahwa meskipun sejak bertahun-tahun lalu Asia didaulat akan menjadi penghela dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi, kenyataannya Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara). Menurutnya, akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.

Di Asia, para pelajar dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya. Para pelajar yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak. Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di Asia karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu.

Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua di Asia lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Di Singapura, pada tahun 2008, sejumlah 97 dari 100 pelajar mengikuti les tambahan pelajaran di berbagai institusi persiapan tes (baca: Lembaga Bimbingan Belajar). Pada tahun 2009, industri persiapan tes di Korea Selatan bernilai 16,3 Miliar US$ atau setara dengan 146,7 triliun rupiah. Jumlah itu kira-kira senilai 36% dari anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan di negeri ginseng.

Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak

Oleh: Abu Khaulah Zainal Abidin

Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa “pendidikan sebagai produk masyarakat” lebih dominan ketimbang “masyarakat sebagai produk pendidikan”.

Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu. Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut.

Padahal pendidikan adalah sebuah proses mengambil, menyerap, dan mengamalkan ilmu. Cakupannya meliputi ketrampilan, penghayatan, dan penalaran. Dan karena kebutuhan manusia akan ilmu itu tidak terbatas, bahkan sebanyak tarikan nafasnya -kata Imam Ahmad-, maka tentu saja waktu dan tempat pendidikan pun tak terbatas. Dan karenanya proses tersebut tidak bisa semata menjadi tanggung jawab sekolah. Rumah tangga, tempat rekreasi, kantor, pabrik, bahkan pasar semua adalah lembaga pendidikan.

Dying Inside

Seorang sahabat yang baik mengirimkan sebuah cerita hikmah kepada saya melalui akun facebooknya. Seperti ini ceritanya, Puluhan tahun yang lalu, di sebuah desa di Kaliwungu Kudus ada seorang tua, pekerjaan beliau adalah tukang asah pisau keliling.

Setiap hari orang tua tersebut berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasanya. Beliau berkeliling sambil membunyikan lonceng kecil, untuk
menarik perhatian orang.

Pada awalnya, banyak sekali orang yang memanfaatkan jasa beliau. Setiap hari selalu ada saja orang yang mengasahkan pisau ataupun gunting mereka ke orang tua tersebut. Dengan pekerjaan mengasah pisau, orang tua tersebut bisa menghidupi keluarganya.

Tahun demi tahun berlalu, jaman semakin modern dan membuat segalanya menjadi praktis. Demikian juga, pisau-pisau maupun gunting-gunting yang ada di pasaran semakin berkualitas dan murah. Sehingga perlahan- lahan tidak ada lagi orang yang mengasahkan pisau atau guntingnya. Mereka lebih memilih untuk membeli yang baru daripada mengasahkannya. Akibatnya, tidak ada lagi orang yang membutuhkan jasa orang tua si pengasah pisau tersebut.

Ujian Nasional, Buah Simalakama?

Ujian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah berakhir namun pro dan kontra tentang diadakannya ujian nasional ini masih saja berlangsung. Ujian Nasional secara serentak mulai diadakan sejak tahun 2005 dimana UN dijadikan parameter kelulusan siswa secara mutlak. Pro dan kontra pun langsung menyeruak mengingat kelulusan seorang siswa tidak mungkin hanya dinilai hanya 3 hari saja walau telah belajar selama 3 tahun di sekolah ditambah masih belum meratanya fasilitas pendidikan di Indonesia maka penetapan target nilai minimum pada UN dianggap tidak masuk akal.

Selain itu tidak mungkin kelulusan hanya dinilai hanya pada mata pelajaran tertentu saja karena bisa jadi ada siswa yang memang secara akademik kurang memuaskan nilainya namun secara bidang lain seperti olah raga atau seni memiliki kemampuan yang luar biasa jadi penetapan UN sebagai syarat mutlak kelulusan dianggap hanya membebani siswa dan tentu saja guru. Usulan untuk memberikan kebebasan pada sekolah dalam penentuan kelulusan siswa juga ditolak oleh pemerintah karena dianggap tidak memenuhi standar kualifikasi kelulusan siswa yang seragam. Inilah yang akhirnya menyebabkan pro dan kontra UN menjadi semakin panjang dan lebar hingga tiap tahun selalu menjadi bahan perdebatan walaupun sistem kelulusan tahun ini berubah yaitu sekolah diberikan kesempatan untuk menilai siswa jadi tidak hanya 100% dari hasil UN.

Pada dasarnya ujian atau evaluasi bagi seorang siswa adalah perlu bahkan mutlak dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan hasil didikan pada siswa tersebut. Namun membebankan UN sebagai syarat mutlak kelulusan juga bukan solusi yang tepat mengingat kapasitas individu berbeda-beda belum lagi faktor lain seperti kondisi sekolah dan tenaga pengajar.

Mensos dan Tini Si Anak Stress, Diejek Miskin dan Tak Bisa Beli LKS

Tulisan di bawah ini saya ambil dari tweeternya pak Mensos.

Kepada Pak Mensos saya mohon maaf. Saya tampilkan tanpa izin dari Bapak. Karena ini benar-benar menarik.

1. Ini kisah Agustini (putri 10 th) alami tekanan hdp, diejek kawan2nya sbg anak tak mampu.

2. Jum’at, 15/4, Tim Reaksi Cepat Kemensos mendgr kabar radio Elshinta ttg anak yg stress bawa cutter di bengkel Jl Prapanca, jaksel.

3. Jam 19.00 #TRC nuju lokasi, tp sang anak tlh dibawa Satpol PP ke Kel Cipete. Saat dicek ke Cipete, sdh dibw ke Walikota Jaksel.