Dulu, dulu sekali….ketika saya masih anak-anak, dengan kondisi kehidupan yang serba susah dan terbatas bapak saya dengan getol selalu menyuruh saya sekolah, begitupun ibu saya tercinta, beliau akan segera ‘membelai’ telinga saya sampai merah jika mulai muncul gejala malas sekolah.
Nah cukup disitu, Ayah dan Ibu saya hanya menyuruh saya untuk sekolah titik, beliau tidak perduli dengan pelajaran apa yang saya pelajari hari ini, dapat berapa nilai ulangan saya, atau bagaimana PR untuk esok hari. Pendek kata mereka berdua menyuruh saya untuk sekolah bukan belajar. Saya hampir tidak pernah dimarahi jika nilai matematika saya di bawah 7 atau bahkan dibawah 3 sekalipin, mereka tidak pernah memaksa nilai pelajaran saya harus bernilai ’super’, yang terpenting adalah saya tidak mencontek dan tidak ‘badung’ di sekolah.
Dari sikap kedua orang tua saya, saya menjadi semangat untuk ke sekolah, bukan karena mengejar warna biru segar di raport tapi mengejar ilmu apapun yang bisa saya pelajari disekolah.Bukan karena takut dengan kedua orang tua, tapi karena merasa perlu untuk menjadi lebih bermanfaat. Sungguh sangat menyenangkan, bagi saya sekolah adalah surga, surga untuk membuka dunia baru.
Meski kondisi ekonomi yang ‘morat-marit’ perlakuan orang tua saya tidak pernah berubah, dan anak-anaknyalah yang semakin dewasa menyikapinya.