Tampilkan postingan dengan label Seputar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

Psikolog: Keluarga tentukan perkembangan kepribadian remaja

Keluarga sangat menentukan prestasi dan perkembangan kepribadian anak di usia remaja.

Demikian disampaikan psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kwartarini Wahyu Yuniarti, Sabtu (18/6/2011)

“Interaksi anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya menyebabkan seorang anak lebih mengetahui perannya sebagai individu dan makhluk sosial,”
kata Yuni.

Menurut dia, hal itu berbeda dengan konsep psikologi Barat yang menitikberatkan perkembangan kepribadian remaja berdasarkan lingkungan teman sekitarnya.

Senin, 13 Juni 2011

Mengenal dan Menarik Optimal dari Gaya Belajar Anak


Setiap anak adalah unik. Mengapa unik..? Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki cara tersendiri yang memudahkan dirinya dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi yang biasa disebut dengan belajar.

Seseorang yang belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan dirinya akan mencapai nilai jauh lebih baik dibandingkan dengan anak yang belajar dengan gaya atau cara belajar yang tidak sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya setiap anak diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi gaya belajarnya masing masing agar dapat mempelajari sesuatu dengan maksimal.

Tiga macam gaya belajar yang perlu dikenal orang tua dan jgua anak adalah sebagai berikut :

Gaya belajar Visual :

Dalam gaya belajar ini biasanya seorang anak menyerap informasi dengan cara membaca, melihat gambar gambar, diagram grafik maupun video.

Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur

Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur malah ajur!

Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki.

Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, menghujat tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang kemarin. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya.

Padahal, agenda pertemuan tersebut sebenarnya mediasi antara warga dan wali murid dengan Siami. Namun, rembukan yang difasilitasi Muspika (Musyarah Pimpinan Kecamatan Tandes) itu malah berbuah pengusiran. Mediasi itu sendiri digelar untuk menuruti tuntutan warga agar keluarga Siami minta maaf di hadapan warga dan wali murid.

Minggu, 22 Mei 2011

Guru Berwibawa vs Guru Idola

Keberadaan dan kehadiran Guru masih begitu sentral dalam proses pembelajaran di sekolah walalupun hakikatnya proses pembelajaran sekarang ini tidak lagi terfokus pada hanya seorang guru dimana guru hanya berperan sebagai seorang fasilitator saja dan para peserta didik dituntut untuk lebih kreatif dan lebih cerdas dalam menguasai kompetensi-kompetensi yang dipelajarinya.

Sosok sentral inilah menjadikan sosok seorang guru dituntut benar-benar menguasai materi-materi yang diampunya dan peserta didikpun sering kali bisa memberikan penilaian atas kinerja dan kemampuan guru yang bersangkutan, jangan salah banyak peserta didik walalupun selama mereka berada dalam kelas duduk rapi, tidak ribut, selalu mengerjakan tugas namun kenyataannya mereka selalu membicarakan guru yang bersangkutan karena ketidakmampuannya dalam menyampaikan materinya, interaksi dengan peserta didik kurang, komunikasi yang berjalan searah, monoton dan tidak variatif, membosankan dan banyak lagi hal-hal yang harus diperbaiki guru yang terkadang tidak disadarinya.

Minggu, 08 Mei 2011

Idealisme Guru Dinilai Menurun

Idealisme guru dinilai mulai menurun. Ini karena sistem kapitalisme pendidikan yang membuat guru menjadi sibuk sendiri mengejar kesejahteraan hidup, dan melupakan tugas pokok kepada siswa yaitu mengasuh, mendidik dan memelihara.

Demikian ditegaskan praktisi pendidikan Al Firdaus, Siti Rohimah saat berbicara dalam seminar pendidikan Kapitalisasi Pendidikan Mengikis Idealisme Guru, yang digelar Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) cabang Solo di SMKN 7, Minggu (8/5).

Dikatakan Siti, tugas dari seorang guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi kepada anak. Lebih dari itu, guru harus melihat satu persatu apakah anak sudah memahami materi yang diberikan atau belum. Pemahaman itu tak hanya sekadar klasikal, namun harus dilihat secara individual sejauh mana pemahaman anak.

Kamis, 05 Mei 2011

Kegembiraan bikin anak cerdas

Orangtua, guru maupun insan pendidik lainnya diminta menjaga suasana gembira anak jika menginginkan anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Pasalnya, ketika seorang anak suasana hatinya gembira atau senang, dia akan lebih mudah menerima suatu ilmu dan otak akan berkembang sangat pesat.

Pendapat itu disampaikan owner Genius Mind Consultancy (GMC) Solo, Sugeng, di sela-sela acara seminar sehari bertema Mengenal Potensi dan Bakat Anak, Menggali Potensi Jenius pada Anak, yang diselenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/Kelompok Bermain (KB) Bina Bangsa bekerja sama dengan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Solo dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Solo, di Ria Rasa Resto, Manahan, Solo, Kamis (5/5).

“Hal yang bisa menurunkan kemampuan anak pada hakikatnya adalah tekanan atau anak tersebut mengalami stres. Padahal pendidikan di Indonesia banyak yang justru memberikan tekanan besar pada anak”

Senin, 02 Mei 2011

Perjuangan Tiada Akhir Pak Zul, Guruku

Saya punya seorang sahabat, namanya Zulhiswan, biasa dipanggil Pak Zul. Beliau guru matematika. Saya sering menganggap beliau sebagai guru, karena petuah-petuahnya dan karena perbedaan umur kita yang cukup jauh.

Saat ini beliau sudah berkepala lima, jadi sudah lama menjadi guru. Akan tetapi, beliau tidak berpangkat alias bekerja sebagai guru tidak tetap. Dulu, di saat guru lain diangkat menjadi PNS, beliau menjadi guru honorer. Sekarang di saat guru lain mampu mengendarai mobil dan membeli rumah real estate, beliau masih menunggang motor Honda tuanya dan tinggal di perumnas. Beliau guru yang sangat sederhana.

Beliau bekerja dengan penuh dedikasi untuk murid. Beliau tidak sibuk mengejar kompetensi pribadi, tetapi sibuk mengejar kompetensi murid. Beliau tidak sibuk mengejar prestasi pribadi, tetapi sibuk mengejar prestasi murid. Beliau tidak memanfaatkan karya muridnya untuk kepentingan pribadi, tetapi memanfaatkan karya pribadinya untuk kepentingan muridnya.

Rabu, 27 April 2011

UN - Ladang Penyimpangan Ketidakjujuran dan Ketidakdisiplinan

Ujian Nasional atau disingkat UN diadakan dengan tujuan sebagai alat tolok ukur standar pendidikan di Indonesia. Namun, kehadiran alat tersebut justru menjadikan beban tersendiri bagi siswa, pendidik, dan orang tua siswa. Mengapa beban? Hal ini karena hasil UN digunakan sebagai penentu kelulusan siswa. Alhasil yang memperoleh nilai kurang, tidak lulus. Seharusnya tidak demikian, hasil UN sebaiknya dijadikan sebagai landasan sebuah lembaga pendidikan agar mereview kembali proses kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah masing-masing. Jika hasil siswa mereka rendah, artinya ada sesuatu yang harus diperbaiki. Nilai UNSD/UNSMP sebelumnya bisa dijadikan pedoman awal. Jika, UN ditingkat selanjutnya rendah, artinya proses pembelajaran di sekolah tersebut ada masalah.

Dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan menjadikan oknum siswa dan oknum pendidik mencari jalan pintas. Kekhawatiran ‘tidak lulus’ dalam UN menjadikan mereka berbuat tidak terpuji. Ada oknum yang berusaha membocorkan soal dan menyebarkan kunci jawaban ke siswa-siswa yang mau bayar mahal. Ada juga oknum yang membuat kunci ‘bodong’ alias kunci palsu untuk mendapatkan uang dengan memanfaatkan momen-momen seperti ini. Siswa yang kurang PD atau mungkin lemah dalam hal akademis pun rela membeli kunci yang diedarkan, entah tahu kunci itu palsu atau benar.

Di dalam ruang ujian pun, ada oknum siswa yang membawa HP untuk membantu mereka dalam mengerjakan UN. Padahal aturan UN sudah jelas tidak boleh membawa HP. Dan yang sangat disayangkan, pengawas UN di tempat tersebut hanya mendiamkan hal tidak terpuji ini berlangsung. Tidak hanya membawa HP, ada juga oknum siswa yang berdiskusi bahkan mencontek pekerjaan teman mereka. Kegiatan negatif ini mereka anggap wajar demi sebuah kata ‘LULUS’ tanpa memperhatikan keberkahan yang menyertai.

Selasa, 26 April 2011

Kegagalan Sistem Pendidikan Asia

Pada edisi 26 Maret 2010, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia, Science, memuat sebuah artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak. Dituturkannya bahwa meskipun sejak bertahun-tahun lalu Asia didaulat akan menjadi penghela dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi, kenyataannya Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara). Menurutnya, akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.

Di Asia, para pelajar dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya. Para pelajar yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak. Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di Asia karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu.

Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua di Asia lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Di Singapura, pada tahun 2008, sejumlah 97 dari 100 pelajar mengikuti les tambahan pelajaran di berbagai institusi persiapan tes (baca: Lembaga Bimbingan Belajar). Pada tahun 2009, industri persiapan tes di Korea Selatan bernilai 16,3 Miliar US$ atau setara dengan 146,7 triliun rupiah. Jumlah itu kira-kira senilai 36% dari anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan di negeri ginseng.

Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak

Oleh: Abu Khaulah Zainal Abidin

Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa “pendidikan sebagai produk masyarakat” lebih dominan ketimbang “masyarakat sebagai produk pendidikan”.

Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu. Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut.

Padahal pendidikan adalah sebuah proses mengambil, menyerap, dan mengamalkan ilmu. Cakupannya meliputi ketrampilan, penghayatan, dan penalaran. Dan karena kebutuhan manusia akan ilmu itu tidak terbatas, bahkan sebanyak tarikan nafasnya -kata Imam Ahmad-, maka tentu saja waktu dan tempat pendidikan pun tak terbatas. Dan karenanya proses tersebut tidak bisa semata menjadi tanggung jawab sekolah. Rumah tangga, tempat rekreasi, kantor, pabrik, bahkan pasar semua adalah lembaga pendidikan.

Fenomena Ujian Nasional: Ini Benar-benar Terjadi

Suasana sepi mencekam, dengan penuh keseriusan anak-anak mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Dua pengawas duduk di kursinya. Dua puluh menit kemudian mulai terdengar gemerisik kertas di ruang itu. Anak-anak mulai mencari-cari kesempatan buat mencontek karena dilihatnya sang pengawas asyik mengobrol. Ketika gemerisik kertas menjadi semakin ribut, sang pengawas hanya berkata “Boleh tanya tetapi jangan berisik.” Jadilah mereka bertukar-tukar jawaban.

Ujian Nasional akan dimulai tepat pukul delapan. Namun para siswa telah diminta hadir di sekolah pukul enam. Pukul enam sang guru mata pelajaran yang diujikan datang memberikan rambu-rambu yang disertai jawaban-jawaban soal. Anak-anak merasa senang ketika apa yang diberikan gurunya pagi tadi benar-benar keluar dalam ujian.

Pengawas Ujian Nasional harus bukan guru mata pelajaran yang diujikan. Entah untuk mengejar uang transport yang akan diberikan kepada pengawas atau ada maksud lain, tiba-tiba saja guru matematika menjadi guru PLKJ, guru IPA menjadi guru Tata Boga dan seterusnya agar mereka bisa mengawas penuh selama empat hari.

Ujian Nasional, Buah Simalakama?

Ujian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah berakhir namun pro dan kontra tentang diadakannya ujian nasional ini masih saja berlangsung. Ujian Nasional secara serentak mulai diadakan sejak tahun 2005 dimana UN dijadikan parameter kelulusan siswa secara mutlak. Pro dan kontra pun langsung menyeruak mengingat kelulusan seorang siswa tidak mungkin hanya dinilai hanya 3 hari saja walau telah belajar selama 3 tahun di sekolah ditambah masih belum meratanya fasilitas pendidikan di Indonesia maka penetapan target nilai minimum pada UN dianggap tidak masuk akal.

Selain itu tidak mungkin kelulusan hanya dinilai hanya pada mata pelajaran tertentu saja karena bisa jadi ada siswa yang memang secara akademik kurang memuaskan nilainya namun secara bidang lain seperti olah raga atau seni memiliki kemampuan yang luar biasa jadi penetapan UN sebagai syarat mutlak kelulusan dianggap hanya membebani siswa dan tentu saja guru. Usulan untuk memberikan kebebasan pada sekolah dalam penentuan kelulusan siswa juga ditolak oleh pemerintah karena dianggap tidak memenuhi standar kualifikasi kelulusan siswa yang seragam. Inilah yang akhirnya menyebabkan pro dan kontra UN menjadi semakin panjang dan lebar hingga tiap tahun selalu menjadi bahan perdebatan walaupun sistem kelulusan tahun ini berubah yaitu sekolah diberikan kesempatan untuk menilai siswa jadi tidak hanya 100% dari hasil UN.

Pada dasarnya ujian atau evaluasi bagi seorang siswa adalah perlu bahkan mutlak dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan hasil didikan pada siswa tersebut. Namun membebankan UN sebagai syarat mutlak kelulusan juga bukan solusi yang tepat mengingat kapasitas individu berbeda-beda belum lagi faktor lain seperti kondisi sekolah dan tenaga pengajar.

Mensos dan Tini Si Anak Stress, Diejek Miskin dan Tak Bisa Beli LKS

Tulisan di bawah ini saya ambil dari tweeternya pak Mensos.

Kepada Pak Mensos saya mohon maaf. Saya tampilkan tanpa izin dari Bapak. Karena ini benar-benar menarik.

1. Ini kisah Agustini (putri 10 th) alami tekanan hdp, diejek kawan2nya sbg anak tak mampu.

2. Jum’at, 15/4, Tim Reaksi Cepat Kemensos mendgr kabar radio Elshinta ttg anak yg stress bawa cutter di bengkel Jl Prapanca, jaksel.

3. Jam 19.00 #TRC nuju lokasi, tp sang anak tlh dibawa Satpol PP ke Kel Cipete. Saat dicek ke Cipete, sdh dibw ke Walikota Jaksel.

Rabu, 20 April 2011

Dewi, Bocah SD yang Cacat Fisik itu Ingin Menjadi Guru

Meski kedua kakinya buntung dan kedua telapak tangannya tak sempurna, namun Dewi Sudarmi (6), siswi klas 1 SDN Kertagenah Laok 3 itu bercita-cita menjadi guru madrasah.
"Semula Dewi kepingin jadi perawat. Tapi setelah tahu jika perawat harus mondar-mandir memeriksa pasien, Dewi akhrinya berkeinginan jadi guru madrasah. Yang penting tugasnya membantu orang lain," kata Masihah, ibunya Dewi saat ditemui detiksurabaya.com, Selasa (29/3/2011).

Putri ketiga pasangan Ali Maki dan Masihah itu, memang cacat sejak lahir. Kaki kanannya buntung dari pangkal paha dan kaki kirinya buntung dari pangkal lutut. Cacat juga menimpa kedua telapak tanganya yang jemarinya tumbuh tak sempurna.

Meski cacat, semangat belajar Dewi tetap besar. Pagi sekali Dewi sudah bangun tidur, lalu minta disiapkan air mandi dan seragam sekolah. Dewi mandi sendiri dan mengenakan seragam sendiri.

Kamis, 14 April 2011

Pengembangan Kurikulum Home Schooling

Hadirnya homescooling beberapa tahun belakangan ini turut meramaikan dunia pendidikan Indonesia. Sebagai salah satu alternatif pendidikan yang relatif baru, tentu saja masih banyak kalangan yang meragukan homeschooling. Pernyataan seputar homeschooling pun muncul seperti tentang siapa gurunya, di mana tempat belajarnya, apa yang dipelajari, bagaimana proses belajar homeschooler (pelaku homeschooling), bagaimana evaluasinya dan lain sebagainya. Perntanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya adalah pertanyaan mengenai bagaimana kurikulum homeschooling itu sendiri. Berbeda dengan jalur Pendidikan Non formal seperti Paket A, Paket B, dan Paket C, sampai saat ini belum ada kurikulum baku yang ditetapkan oleh pemerintah untuk homeschooling. Dalam pelaksanaannya, setiap homeschooling memiliki kurikulum yang berbeda-beda.

Kurikulum homeschooling memang bersifat customized. Artinya, homeschooling memiliki pilihan untuk menentukan kurikulum yang diacu sesuai dengan kebutuhan dan minat homeschooler, ingin memperoleh ijazah resmi dari pemerintah dengan mengikuti ujian kesetaraan. Kurikulum yang digunakan harus diintegrasikan dengan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan bahan-bahan pelajaran yang diujikan dalam ujian kesetaraan ke dalam program homeschooling yang dilaksanakan.

A. Homeschooling

Secara harfiah, homeschooling adalah sekolah yang diadakan di rumah, namun secara hakiki ia adalah sebuah sekolah alternarif yang menempatkan anak sebagai subjek dengan pendekatan pendidikan secara at home. Dengan pendekatan ini, anak merasa nyaman. Mereka bisa belajar sesuai dengan keinginan dan gaya belajar masing-masing, kapan saja dan di mana saja, sebagaimana ia tengah berada di rumahnya sendiri. (Versiansyah, 2007: 18)

Selasa, 12 April 2011

Kami Butuh Pendidik bukan Pengajar

Sungguh indah jika hidup ini penuh dengan ilmu. Kita bisa mengetahui mana saja yang baik dan mana saja yang tidak baik. Belajar dan terus belajar, merupakan cara untuk kita bisa pintar. duduk di bangku, dan menerima segala bentuk macam pelajaran. Di antara sekian banyak pelajaran yang diberikan pasti ada saja pelajaran yang tidak kita sukai.

Berbicara tentang pelajaran yang tidak disukai, bearti kita telah berbicara tentang bakat. Bakat orang berbeda-beda, dan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi sama. Biasanya muncul pelajaran yang tidak disukai ini pada masa-masa SMA. karna pada masa ini seorang sudah ketika seorang harus bergulat dengan pelajaran yang tidak disukanya, pastilah ia akan melakukan suatu tindakan berontak. Dan yang terlihat oleh guru bukan tindakan berontak, melainkan kenakalan dari murid itu. Ketika sudah begini pasti yang menjadi kambing hitam adalah murid ini sendiri. Seolah-olah ia hanya akan menjadi sutu masalah untuk sekolah tersebut. Dan ujung-ujung nya ia akan dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena seseorang yidak bisa pintar pada semua bidang. Ia harus dicap sebagai murid bandel.

Kepintaran orang berbeda-beda. Mengapa kepintaran itu tidak dimanfaatkan, mengapa seorang yang pintar di suatu bidang harus menerima pelajaran yang sangat jauh berbeda dari bakatnya. Jika sudah begini, apakah masih murid yang salah.? Seolah seorang murid ini malas dan tidak patut naik kelas. Jika hanya patokan kepintaran seseorang hanya melalui Ilmu eksak, dan juga kepintaran seseorang hanya diukur dengan seluruh mata pelajaran disekolah.?? Maka pasti ia akan akan terlihat benar-benar bodoh. Karena diluar sana untuk kita hidup, tidaklah hanya ilmu eksak dan ilmu pengetahuan disekolah saja yang perlu. Berbagai kepintaran juga sangat perlu. Seperti bakat olahraga contohnya.

Belajar untuk Belajar

Dulu, dulu sekali….ketika saya masih anak-anak, dengan kondisi kehidupan yang serba susah dan terbatas bapak saya dengan getol selalu menyuruh saya sekolah, begitupun ibu saya tercinta, beliau akan segera ‘membelai’ telinga saya sampai merah jika mulai muncul gejala malas sekolah.

Nah cukup disitu, Ayah dan Ibu saya hanya menyuruh saya untuk sekolah titik, beliau tidak perduli dengan pelajaran apa yang saya pelajari hari ini, dapat berapa nilai ulangan saya, atau bagaimana PR untuk esok hari. Pendek kata mereka berdua menyuruh saya untuk sekolah bukan belajar. Saya hampir tidak pernah dimarahi jika nilai matematika saya di bawah 7 atau bahkan dibawah 3 sekalipin, mereka tidak pernah memaksa nilai pelajaran saya harus bernilai ’super’, yang terpenting adalah saya tidak mencontek dan tidak ‘badung’ di sekolah.

Dari sikap kedua orang tua saya, saya menjadi semangat untuk ke sekolah, bukan karena mengejar warna biru segar di raport tapi mengejar ilmu apapun yang bisa saya pelajari disekolah.Bukan karena takut dengan kedua orang tua, tapi karena merasa perlu untuk menjadi lebih bermanfaat. Sungguh sangat menyenangkan, bagi saya sekolah adalah surga, surga untuk membuka dunia baru.

Meski kondisi ekonomi yang ‘morat-marit’ perlakuan orang tua saya tidak pernah berubah, dan anak-anaknyalah yang semakin dewasa menyikapinya.

Minggu, 10 April 2011

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

"Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur..."

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.

Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.

Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Selasa, 05 April 2011

Colomadu jadi percontohan optimalisasi intelligencia anak

Colomadu, Karanganyar, ditetapkan menjadi percontohan optimalisasi kondisi kesehatan intelligencia anak oleh Kementerian Kesehatan. Kegiatan dipusatkan di Pediatric Neurodevelopment Therapy pimpinan Nawangsari Takarina MPsi yang berkedudukan di Colomadu, Karanganyar.

Hal itu disampaikan Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intellegencia Anak, Kementerian Kesehatan, dr Gunawan Bambang, kepada wartawan di sela-sela Pertemuan Orientasi Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelligencia Kesehatan di Hotel Lor In Karanganyar, Jumat (11/3).

Ia menerangkan selama ini belum ada penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) secara komprehensif sehingga mampu menghasilkan anak cerdas sebagai calon pemimpin masa depan. Anak yang cerdas, katanya, tak sekadar cerdas secara akademik, tapi anak yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.

Perlu, penguatan aspek spiritual dalam pendidikan

Penguatan aspek spiritual dalam pendidikan, khususnya pendidikan di Fakultas Hukum, perlu dilakukan. Hal ini menyikapi banyaknya penegak hukum di negara ini yang justru melanggar aturan.

Pendapat itu disampaikan Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum UNS, Prof Dr Supanto SH MHum, saat jumpa pers di Rumah Makan Puspasari Solo, Kamis (24/3/2011). Pengukuhan Supanto sebagai guru besar ke-5 Fakultas Hukum UNS dan guru besar ke-140 UNS, akan dilaksanakan Rabu (30/3).

Supanto berpendapat, penguatan aspek spiritual dalam pendidikan calon penegak hukum diharapkan akan membentuk karakter penegak hukum yang relijius. Sehingga ketika bekerja, mereka akan selalu memohon petunjuk Yang Maha Adil, saat akan memutuskan suatu perkara. “Misalnya dalam sebuah pengadilan, seorang hakim ketika akan memutuskan suatu perkara, memohon petunjuk Yang Maha Adil terlebih dahulu. Sehingga diharapkan keputusan yang diberikan akan lebih adil dan bijaksana,” jelasnya.