Ya, kita seringkali terlena dengan pekerjaan kita hingga menghabiskan banyak waktu yang seharusnya untuk anak-anak kita. Untuk keluarga kita. Seolah-olah kita berkata kepada keluarga, “Apa yang kurang dari kalian, uang sudah cukup. Rumah sudah mewah. Apa yang kurang?”…Yang kurang adalah kasih sayang. Yang dicari adalah kesempatan untuk bercengkerama dan bersenda gurau. Sesuatu yang kini menjadi barang langka di kota besar.
Kamis, 15 Oktober 2009
“Maafkan Aku, Nak!”… Kisah Nyata (?)
Dik Doang, Seorang presenter dan artis penyanyi balada, dalam satu kesempatan (malam hari) di televisi swasta mengatakan, “Sebelum saya menyanyi, saya ingin mengucapkan selamat kepada para orang tua yang masih berada di kantor. Anak-anak menanti Anda di rumah”
Senin, 12 Oktober 2009
Sebuah Cerita (untuk bekal mendidik anak)
Pada suatu ketika dikisahkan ada seorang tua renta yang tinggal dengan anak dan menantunya yang sudah berputra 6 tahun. Sang kakek sudah mengalami kesulitan saat berjalan ataupun menggerakkan tangannya karena stroke yang pernah diderita sebelumnya.
Seperti biasa saat makan malam seluruh keluarga berkumpul dimeja makan diruang tengah. seperti biasa pula karena ketidak seimbangan tangannya ada saja alat makan yang terjatuh, sup atau air tumpah dan membasahi taplak meja makan.
Melihat itu semua gusarlah pasangan suami istri tsb. “…kalau begini terus, hilang selera makanku.!!!” begitu keluh sang menantu. Akhirnya dengan kesepakatan bersama suami istri tsb membuat meja kecil lalu diletakkan disudut ruangan, tidak lupa pula mereka membeli peralatan makan dari plastik untuk sang kakek.
Bocah 2 Tahun Ber-IQ Einstein
INILAH.COM, Jakarta. Bocah dua tahun yang memiliki IQ sama seperti Albert Einstein dan Stephen Hawking, Oscar Wrigley menjadi anak termuda di Inggris Raya yang diterima di Mensa.
Penilai di Pusat Informasi Anak Berbakat di Solihull mengatakan, Oscar memiliki IQ setidaknya 160 dan merupakan salah satu anak tercerdas.
Dia telah menempati ranking 99,99 dari 100 penduduk, dan menempati ranking teratas dari skala Stanford-Binet yang tidak dapat mengukur lebih tinggi dari 160.
Minggu, 11 Oktober 2009
484 guru di Solo tak lulus sertifikasi
Solo (Espos). Sebanyak 484 dari 890 guru di Kota Solo tidak lulus sertifikasi kuota tahun 2009. Sebanyak dua guru di antaranya didiskualifikasi lantaran belum memenuhi persyaratan sertifikasi.
Hasil rekapitulasi penilaian portofolio guru dari Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG) menyatakan jumlah guru di Kota Solo dari kalangan Depertemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang lulus sertifikasi mencapai 404 dengan persentase 45,39%. Sementara jumlah yang tidak lulus mencapai 484 guru dengan persentase 54,38%. Persentase ketidaklulusan guru di Kota Solo menduduki peringkat kedua setelah Kabupaten Sragen yang mencapai 55,14% dari 1.255 guru.
Kamis, 08 Oktober 2009
Mengasah "Calon Peraih Nobel" dari Papua
KOMPAS.com. Berikanlah soal Matematika yang sulit. Terserah soal apa saja. Merlin Enjelin Rosalina Kogoya (9) dan Demira Jikwa (8) pasti bisa menjawabnya dengan benar dan sangat cepat. Padahal, keduanya bukanlah siswa sekolah favorit di kota besar atau di Jakarta.
Kedua anak tersebut adalah siswa kelas III sekolah dasar di Kabupaten Tolikara, daerah pedalaman di Provinsi Papua.
Tidak mudah menemukan kabupaten tersebut dalam peta. Maklum, kabupaten pemekaran. Tidak gampang pula untuk menjangkau kabupaten di daerah pegunungan Papua itu. Hanya pesawat kecil berkapasitas beberapa orang yang bisa menjangkau kabupaten itu. Itu pun jika cuaca memungkinkan.
Namun, berbagai keterbatasan alam tersebut tidak menghalangi Merlin dan Demira untuk piawai dalam Matematika. Kepiawaian mereka dalam Matematika dibuktikan di sebuah ruang pertemuan di Jayapura, awal September lalu.
Kedua anak tersebut adalah siswa kelas III sekolah dasar di Kabupaten Tolikara, daerah pedalaman di Provinsi Papua.
Tidak mudah menemukan kabupaten tersebut dalam peta. Maklum, kabupaten pemekaran. Tidak gampang pula untuk menjangkau kabupaten di daerah pegunungan Papua itu. Hanya pesawat kecil berkapasitas beberapa orang yang bisa menjangkau kabupaten itu. Itu pun jika cuaca memungkinkan.
Namun, berbagai keterbatasan alam tersebut tidak menghalangi Merlin dan Demira untuk piawai dalam Matematika. Kepiawaian mereka dalam Matematika dibuktikan di sebuah ruang pertemuan di Jayapura, awal September lalu.
Ke Mana Arah Pendidikan Nasional?
Kamis, 8 Oktober 2009 | 11:45 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
-------------------------------------------------------
Berdasarkan kondisi itu, pakar pendidikan Prof HAR Tilaar menyampaikan sejumlah koreksi terhadap visi pendidikan nasional yang berkembang saat ini.
Pertama, ciri pendidikan yang harusnya didasarkan pada kebudayaan nasional kerap diabaikan. Pengajaran bahasa dan pembentukan watak bukan lagi menjadi prioritas.
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
-------------------------------------------------------
DEPOK, KOMPAS.com. Belakangan ini pendidikan nasional seperti kehilangan visi. Bukan visi pendidikan nasional sebagai sarana membangun identitas bangsa dalam menerima perubahan global yang diperjuangkan, tetapi Indonesia cenderung hanyut dalam arus globalisasi. Lalu, ke mana arah pendidikan nasional saat ini?
Berdasarkan kondisi itu, pakar pendidikan Prof HAR Tilaar menyampaikan sejumlah koreksi terhadap visi pendidikan nasional yang berkembang saat ini.
Pertama, ciri pendidikan yang harusnya didasarkan pada kebudayaan nasional kerap diabaikan. Pengajaran bahasa dan pembentukan watak bukan lagi menjadi prioritas.
Selasa, 06 Oktober 2009
"Bacanya yang keras ya Pa...!"
Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.
Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan �suara manjanya, "Papa lihat!" John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.
Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan �suara manjanya, "Papa lihat!" John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Apabila kita membangun sebuah bangunan katakanlah rumah, yang diperhatikan pertama-tama adalah fondasinya. Apabila fondasinya kuat dan bagus...
-
Jakarta, Detik Health. Einstein memiliki imajinasi 3 dimensi yang tinggi. Dengan duduk melamun ia bisa menciptakan sebuah teori relativitas...
-
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Asal diawasi, bermain games tak selamanya buruk. Situs Daily Mail baru-baru ini memberitakan, games kompute...